Peran Guru Wujudkan Sekolah Ramah Anak Disabilitas
- 21 Jan 2026 11:57 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh -Upaya mewujudkan sekolah ramah anak dan disabilitas di Aceh tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik, tetapi terutama pada kesiapan guru, sistem sekolah, serta penerimaan orang tua dan lingkungan belajar. Hal ini mengemuka dalam dialog Beranda Asta Cita RRI Banda Aceh bersama Kepala Sekolah SDS Bunga Matahari Banda Aceh, Cut Monalisa, S.Pd., M.App.ling, Pada Minggu (18/1/2026).
Dalam dialog tersebut, Cut Monalisa menegaskan bahwa sekolah ramah anak dan disabilitas pada dasarnya adalah sekolah yang menghormati setiap fitrah anak. “Sekolah ramah anak itu aman, sehat, bersih, peduli, dan menghargai setiap anak, apa pun latar belakang dan kebutuhannya,” ujarnya.
Menurutnya, konsep inklusivitas tidak cukup dimaknai sebagai penerimaan siswa disabilitas semata, melainkan bagaimana anak-anak dengan kebutuhan khusus belajar dan berbaur bersama teman-temannya dalam satu kelas. “Kalau anak diterima tetapi dipisahkan, maka makna inklusif itu hilang,” kata Cut Monalisa.
Cut Monalisa mengakui bahwa fasilitas sekolah inklusif di Aceh belum sepenuhnya merata. Bahkan di sekolahnya sendiri, akses bagi pengguna kursi roda masih terbatas. Namun, ia menilai kesiapan guru dan sistem pendukung jauh lebih krusial. “Fasilitas mungkin belum sempurna, tetapi kalau gurunya siap, sistemnya kuat, anak tetap bisa belajar dengan baik,” ujarnya.
Di SDS Bunga Matahari, penguatan kapasitas guru dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, seminar, serta kerja sama dengan psikolog klinis anak dan organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang inklusivitas. Guru didorong untuk memahami karakteristik anak, melakukan penyesuaian pembelajaran, serta membangun komunikasi intensif dengan orang tua.
Dalam praktiknya, sekolah menerapkan prinsip fleksibilitas sebagaimana diamanatkan Kurikulum Merdeka. Anak dengan disleksia, autisme, atau ADHD tidak dipaksakan mencapai standar yang sama dengan anak lainnya. Metode evaluasi dan penilaian disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta didik.
“Anak disleksia mungkin belum bisa membaca di kelas dua atau tiga, tetapi bisa saja unggul di bidang lain. Tugas kita bukan memaksa, melainkan menemukan potensinya,” jelas Cut Monalisa. Bentuk penyesuaian antara lain ulangan lisan, target kehadiran yang berbeda, hingga pengurangan beban tugas tulis.
Keberadaan anak berkebutuhan khusus di kelas inklusif, menurut Cut Monalisa, justru memberi dampak positif bagi siswa lain. Anak-anak belajar empati, memahami perbedaan, dan membangun karakter sosial sejak dini. “Yang belajar bukan hanya anak inklusif, tapi juga teman-temannya. Mereka belajar bahwa dunia ini beragam,” katanya.
Ia menambahkan, suasana kelas yang inklusif tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui keteladanan guru. Anak-anak meniru cara guru memperlakukan teman yang berbeda, termasuk saat menghadapi tantrum atau kesulitan belajar.
| Baca juga: Edukasi Lingkungan Bentuk Karakter Anak |
Meski manfaatnya besar, sekolah inklusif tidak lepas dari tantangan. Cut Monalisa menyebut penerimaan sebagai hambatan terbesar—baik penerimaan orang tua, guru, maupun lingkungan sekitar. Tidak jarang orang tua membutuhkan waktu lama untuk menerima kondisi anak dan bersedia melakukan pemeriksaan profesional.
“Diagnosa bukan ranah guru. Itu harus dilakukan psikolog klinis. Kalau orang tua tidak mau bekerja sama, sekolah juga terbatas langkahnya,” ujarnya.
Cut Monalisa berharap adanya kebijakan yang lebih jelas dan dukungan nyata dari pemangku kepentingan untuk sekolah inklusif, termasuk dukungan bagi kesehatan mental guru. Ia menilai guru, khususnya wali kelas, menghadapi tekanan besar dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus setiap hari.
“Kalau pemerintah mendorong sekolah inklusif, harus jelas dukungannya apa. Guru-guru ini perlu dikuatkan, bukan hanya diminta berjuang sendiri,” katanya.
Ia pun mengajak sekolah dan guru lain di Aceh untuk berani membuka diri terhadap inklusivitas. “Setiap anak yang datang adalah amanah. Berat, iya. Tapi di situ juga ada keberkahan,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....