Riset Tunjukkan Kepribadian Ini Bikin Orang Susah Disuap
- 20 Agt 2026 00:56 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa sebagian orang tega menerima suap sementara yang lain menolaknya mentah-mentah meski sama-sama punya kekuasaan? Ternyata jawabannya bukan cuma soal moral atau hukum, melainkan tersimpan jauh di dalam kepribadian seseorang.
Sekelompok peneliti dari Tiongkok dan Amerika Serikat mencoba membongkar misteri ini lewat dua eksperimen daring yang melibatkan lebih dari dua ribu peserta. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Social Psychological and Personality Science pada 2023, dan temuannya cukup menggelitik rasa ingin tahu.
Tim yang dipimpin Yang Hu ini fokus pada satu sifat kepribadian bernama guilt-proneness, alias kecenderungan seseorang untuk gampang merasa bersalah. Sifat ini rupanya bukan sekadar perasaan sepele, melainkan bisa menjadi semacam rem alami yang mencegah seseorang menyalahgunakan kekuasaannya.
Dalam eksperimen pertama, para peneliti menempatkan partisipan pada posisi "pemegang kekuasaan" lewat simulasi permainan ekonomi. Hasilnya konsisten: mereka yang punya guilt-proneness tinggi jauh lebih enggan menerima suap, apalagi ketika dampak buruknya terlihat jelas bagi pihak lain.
Menariknya, faktor "dampak yang terlihat jelas" alias harm salience ini ternyata jadi kunci penting dalam cerita ini. Semakin nyata dan mudah dibayangkan kerugian yang ditimbulkan oleh sebuah suap, semakin besar pula pengaruh rasa bersalah dalam membentengi seseorang dari godaan tersebut.
Tidak puas dengan satu eksperimen, tim ini melanjutkan penelitian kedua dengan desain yang lebih rumit dan dibantu pemodelan komputasional. Pendekatan ini bukan cuma menguatkan temuan sebelumnya, tapi juga membuka tabir mengapa fenomena itu bisa terjadi.
Jawabannya terletak pada empati, tepatnya pada seberapa besar seseorang peduli terhadap penderitaan orang lain akibat tindakannya. Rasa peduli inilah yang menjadi penghubung tersembunyi antara kepribadian pemalu-bersalah dan keputusan untuk menolak uang haram.
Temuan ini punya implikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar teori psikologi di atas kertas. Kalau institusi ingin membuat pejabat atau pemegang kekuasaan lebih tahan godaan, mungkin caranya bukan cuma lewat ancaman hukuman dan menaikkan penghasilan, melainkan dengan membuat dampak korupsi terasa lebih nyata dan manusiawi.
Studi ini melanjutkan rangkaian riset sebelumnya dari tim yang sama soal otak dan kerentanan terhadap suap, termasuk penelitian yang pernah terbit di jurnal Psychological Science. Dengan kata lain, perburuan mereka memahami akar psikologis korupsi rupanya belum berhenti sampai di sini.
Tentu saja, penelitian berbasis simulasi daring ini punya batasan karena situasi di dunia nyata jauh lebih kompleks dan penuh tekanan sosial. Meski begitu, temuan bahwa rasa bersalah dan empati bisa jadi benteng melawan korupsi tetap menjadi kabar baik yang layak untuk direnungkan bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....