Gunung Api Purba, Legenda dari Bukit Nglanggeran
- 03 Sep 2023 08:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
ADEME Gunung Merapi Purba. Sing neng Nglanggeran Wonosari Yogyakarta…
Sepenggal lirik lagu “Banyu Langit” itu mudah membuat orang penasaran. Bertanya-tanya benarkah perbukitan di kawasan Patuk, Gunungkidul, itu dahulunya adalah gunung berapi? Seperti apa jejaknya?
Dalam portal resmi Pemkab Gunungkidul, tercantum nama resmi tempat wisata itu adalah Gunung Api Purba Nglanggeran. Dijelaskan bahwa Gunung Nglanggeran terbentuk dari gunung api dasar laut yang terangkat, kemudian menjadi daratan jutaan tahun lalu.
Gunung tersebut memiliki bebatuan besar yang menjulang tinggi. Maka bisa digunakan sebagai jalur pendakian, bagi yang sedang mendaki gunung.
Puncak dari gunung itu dinamai Gunung Gede. Ketinggiannya mencapai 700 meter dari permukaan laut, dengan luas kawasan sekitar 48 hektare.
Sekarang pertanyaannya, legenda dari Bukit Nglanggeran itu apakah benar-benar gunung api purba? Dalam arti di tempat itu pernah ada gunung api aktif?
Dr. Ir. Agung Harijoko, S.T., M.Eng., IPM., Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, saat ditemui RRI baru-baru ini hanya membenarkan perbukitan itu memang umurnya sangat tua. Mencapai puluhan juta tahun lalu.
“Namun apakah Nglanggeran pusat dari gunung api? Sulit dipastikan karena sudah tidak kelihatan, tidak ketemu koroknya, morfologinya berubah” kata Dr. Agung Harijoko yang juga vulkanolog itu.
“Mungkin Nglanggeran itu hanya kawasan pegunungan, atau mungkin lereng gunung apinya. Sudah lama, sudah tua, sudah mati, sudah tererosi, hanya bisa dapat sisa gunung api berbentuk batuan seperti itu,” ia menambahkan.
Galibnya Bukit Nglanggeran ini berada di jalur pegunungan selatan. Jalur yang membentang dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Di sepanjang bentang tersebut terdapat banyak bekas-bekas pusat erupsi dan gunung api. Namun karena umurnya sudah puluhan juta tahun, sulit dipastikan di mana saja letak magmanya hingga memunculkan gunung api.
Adapun batuan yang menyusun Gunung Nglanggeran berasal dari endapan vulkanik tua. Jenisnya adalah andesit atau batuan keras.
Selanjutnya, “Wisata Nglanggeran”
KAWASAN wisata Nglanggeran ini memiliki empat titik yang bisa didatangi. Selain Gunung Api Purba, juga ada Embung Nglanggeran, Griya Cokelat Nglanggeran, dan Air Terjun Kedung Kandang.
Namun belakangan air terjun Kedung Kandang sudah hilang. Sebab, ada proyek pembangunan jalan alternatif Gunungkidul-Sleman yang menerabas rute air terjun.
Menparekraf Sandiaga Uno sampai angkat komentar perihal hilangnya air terjun tersebut. Ia mengatakan hendaknya pembangunan apapun, harus mempertimbangkan potensi wisata maupun cagar budaya yang ada.
“Ini harus hati-hati sekali, jangan sampai warisan Unesco sebagai situs heritage terganggu. Harus ada heritage impact asessment,” kata Sandia Uno, beberapa bulan lalu.
Perbukitan Nglanggeran ini tampak ramai, khususnya pada akhir pekan. Namun kebanyakan masih wisatawan lokal yang datang berkunjung.
Tempat ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia 2021. Gelar itu disematkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO - United Nation World Tourism Organization).
Desa Wisata Nglanggeran menerima penghargaan itu bersama 44 desa wisata lainnya, dari 32 negara berbagai belahan dunia. Desa-desa wisata itu dipilih atas dasar inovasi dan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan.
Selanjutnya, “Sejarah Pengelolaan”
SEBELUM terkenal seperti sekarang, Desa Nglanggeran hanya berupa wilayah perbukitan. Letak geografis dan keindahan panoramanya belum dimaksimalkan.
Baru pada 1999 Karang Taruna Desa Nglanggeran berusaha menggugah kesadaran masyarakat, agar lebih peduli terhadap lingkungan. Sebab waktu itu di area gunung dengan batu-batu menjulang tampak sangat gersang.
Seperti dikutip dari portal pengelola Gunung Api Purba Nglanggeran, disebutkan lahan berhektare-hektare itu kemudian dilakukan penghijauan. Setelah kondisi mulai menghijau Pemkab Gunungkidul memaksimalkannya melalui promosi.
Pada 2006-2007 desa wisata ini sempat vakum imbas Gempa Jogja. Setelah penangangan gempa selesai, Pemkab Gunungkidul membentuk Badan Pengelola Desa Wisata (BPDW), yang melibatkan ibu-ibu PKK, kelompok tani, pemerintah desa, hingga pemuda karang taruna.
Hingga sekarang pengelolaan masih dipercayakan kepada masyarakat setempat melalui badan tersebut. Diharapkan ke depannya terus eksis dan mampu membuat kehidupan desa menjadi lebih gemah ripah loh jinawi.
Selanjutnya, “Banyu Langit dan Gunung Purba”
LAGU berjudul “Banyu Langit” tidak dibantah ikut membantu menaikkan pamor pariwisata di Gunung Api Purba Nglanggeran. Lewat karya milik almarhum Didi Kempot itu tempat wisata ini menjadi lebih terkenal.
Aris Budiyono, Koordinator Pokdarwis Nglanggeran, mengungkapkan cerita Didi Kempot dan Nglanggeran berawal dari acara sosial wirausaha dari sebuah bank milik BUMN pada 2014. Persisnya saat waktu maghrib tiba pada petang itu.
“Waktu itu Didi Kempot baru laris di kalangan orangtua dengan lagu-lagu jawanya. Jadi belum ada sobat ambyar,” kata Aris.
“Pas maghrib-maghrib ia bilang, mas adem banget (dingin sekali), besok saya buatkan lagu. Kami kira ia hanya iseng, ternyata benar beberapa waktu kemudian muncul lagu Banyu Langit,” ujar Aris, menambahkan.
Setelah itu, masih menurut cerita Aris, banyak orang datang. Bahkan banyak yang mengira embung di Nglanggeran itu puncaknya Gunung Purba, padahal beda posisinya.
Soal tingkat kehadiran wisatawan di Bukit Nglanggeran hingga saat ini terus bertumbuh. Terutama selepas pandemi Covid-19.
“Pastinya paling ramai saat akhir pekan. Ada yang mendirikan tenda untuk berkemah dan masih banyak aktivitas lainnya,” ujar Aris.
Selanjutnya, “Kesan Wisatawan”
RIZKITA berangkat dari Solo naik kereta api pada Sabtu jelang siang. Dia pergi ke Yogyakarta untuk mengikuti tur “Penjelajah Langit”, yang kebetulan waktu itu mengambil tempat di Bukit Nglanggeran.
Perbukitan Nglanggeran memang laris dipakai untuk kamping atau perkemahan. Salah satu yang menarik dipakai buat mengamati langit.
“Akses jalannya bagus. Senang bisa melihat Gunung Api Purba dari dekat,” kata Rizkita, pegawai non-PNS di salah satu instansi pemerintah tersebut.
Fitria, wisatawan dari Bandung, juga memiliki pandangan sama. Dia mengaku takjub dengan pemandangan di Bukit Nglenggeran.
“Ternyata ada yang begini, ada batu sebesar ini dan bisa didaki. Saya penasaran untuk terus mengikuti kisah dan sejarahnya,” ujar Fitria yang berprofesi sebagai guru SD tersebut.
Ke depan Bukit Nglanggeran akan terus menjadi andalan warga sekitar. Terutama untuk memajukan perekonomian lokal melalui pokdarwis.
“Harapan kami ingin setiap dua atau tiga tahun ada inovasi baru yang mampu menyerap tenaga baru, demi meningkatkan kesejahteraan. Dahulu tingkat urbanisasi di sini sangat tinggi, tetapi dengan adanya pariwisata Nglanggeran ini jumlahnya turun drastis, karena perekonomiannya mulai hidup,” ujar Aris.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....