Mengangkat Beban, Mengantar Rindu, Cerita Porter di Riuhnya Stasiun Pasar Senen

  • 18 Mar 2026 12:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Keteguhan seorang porter senior menekuni pekerjaannya hingga 27 tahun
  • Keikhlasan dan ketulusan dalam melayani penumpang menjadi kunci Khamid bertahan dengan profesinya
  • Kepadatan stasiun membuat pemudik sangat bergantung pada bantuan porter

RRI.CO.ID, Jakarta - Riuh langkah pemudik silih berganti memadati Stasiun Pasar Senen saat puncak arus mudik Lebaran siang itu. Barang bawaan yang menumpuk, dan antrean mengular membuat pergerakan penumpang terasa lambat di tengah kepadatan stasiun.

Di antara kerumunan itu, porter menjadi sosok yang dicari untuk membantu membawa barang baik menuju, maupun dari peron. Mereka bergerak cepat menyusuri celah penumpang, menawarkan bantuan di tengah situasi yang serba terburu-buru.

Khamid, satu dari sekian porter senior yang telah lama menjadi bagian dari denyut Stasiun Pasar Senen itu. Sejak tahun 1999, ia menekuni pekerjaan ini, menghabiskan puluhan tahun di antara hiruk pikuk arus keberangkatan dan kedatangan.

Salah satu porter Khamid saat diwawancarai RRI.CO.ID di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa, 17 Maret 2026 (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

Bagi Khamid, melayani penumpang bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan yang dijalani dengan ketulusan. “Ya kita melayani pokoknya dengan sepenuh hati lah, ibaratnya orang nyuruh langsung kita harus sigap gitu,” ujar Khamid pada RRI.CO.ID saat ditemui di sela pekerjaannya di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa 17 Maret 2026.

Ia memahami bahwa di setiap barang yang diangkat, tersimpan harapan untuk segera tiba di kampung halaman. Setiap langkah yang diambilnya menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang para pemudik yang penuh kerinduan.

Khamid pun menyadari pekerjaannya merupakan rezeki yang patut disyukuri di tengah kerasnya kehidupan kota. “Ya adanya pekerjaan ini kita harus disyukuri saja, Alhamdulillah ya bisa buat keluarga lah mencukupi keluarga insyaallah bisa,” katanya dengan senyuman penuh syukur.

Beragam karakter penumpang telah ia temui selama bertahun-tahun bekerja di stasiun yang tidak pernah benar-benar sepi. Ada yang ramah, ada pula yang sulit, namun semuanya tetap ia layani dengan kesabaran yang sama.

“Pekerjaan ini kita melayani penumpang itu, kita pokoknya dengan ikhlas. Pokoknya kita ya ibarat namanya pelayanan kita harus melayani penumpang dengan ikhlas,” ucap lelaki paruh baya itu.

Saat musim mudik tiba, ritme kerja yang semakin cepat dan tenaga terkuras lebih banyak dari hari biasa. Dalam sehari, ia bisa membantu hingga belasan penumpang yang datang silih berganti tanpa jeda.

Waktu berjalan panjang dari pagi hingga petang, dengan baju kuningnya langkah Khamid tetap bertahan di tengah keramaian. Kesibukan itu seakan menjadi bagian dari hidup yang terus berulang setiap musim Lebaran tiba.

Seorang porter terlihat sedang menjaga barang bawaan penumpang di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa, 17 Maret 2026 (Foto: RRI/Namira Kaguma)

Namun, di balik kesibukan itu, Khamid juga menyimpan rindu yang sama seperti para penumpang yang ia bantu. Ia mengungkapkan, akan pulang saat malam takbiran untuk merayakan Lebaran bersama keluarga tercinta.

“Malam takbir mudik ke Kebumen, paling dirumah nanti 1 atau 2 hari saja. Kemudian berangkat lagi,” katanya.

Di sela cerita itu, harapan sederhana ia titipkan kepada para pemudik yang akan menempuh perjalanan jauh. Ia ingin para pemudik sampai dengan selamat dan kembali lagi di lain waktu dengan cerita yang baru.

Sementara itu, bagi penumpang, porter adalah penyelamat di tengah kepadatan yang melelahkan. Dewi, pemudik tujuan Tegal, memilih menggunakan jasa porter demi meringankan langkahnya menuju kereta.

Barang bawaan yang banyak dan kondisi yang berdesakan membuat perjalanan terasa berat tanpa bantuan. Ia merasakan betul bagaimana kehadiran porter membuat perjalanan yang rumit menjadi lebih ringan.

Perjuangan para porter membawa barang bawaan penumpang di tengah kerumunan pemudik di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa, 17 Maret 2026 (Foto: RRI/Namira Kaguma)

“Memang saya sendiri dan barang bawaannya lumayan banyak, apalagi dengan kondisi rame begini. Biar nggak kewalahan juga ya,” ujarnya.

Menurutnya, tanpa porter, perjalanannya bisa terasa melelahkan bahkan sebelum kereta benar-benar berangkat. “Wah, kebayang gimana ribetnya ya, apalagi ramai seperti ini, kayanya udah capek sebelum jalan,” kata Dewi sambil membayangkan betapa lelah dirinya.

Kini, di tengah arus mudik yang terus mengalir, porter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pulang. Mereka bukan sekadar pengangkut barang, melainkan pengantar rindu yang membantu langkah menuju rumah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....