Rindu Pulang Tak Pernah Surut meski Kehilangan

  • 17 Mar 2026 15:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perjuangan pemudik mendapatkan tiket
  • Mudik gratis jadi harapan untuk tetap pulang dan berkumpul
  • Lebaran tetap bermakna meski tanpa kehadiran orang tua tercinta

TERIK matahari siang terasa menyengat kulit di kawasan Stasiun Pasar Senen yang dipadati antrean panjang pemudik sejak pagi hari. Desakan penumpang yang ingin segera naik kereta memperlihatkan kerinduan kuat untuk pulang dan bertemu keluarga di kampung halaman.

Kepadatan semakin terasa saat antrean bergerak perlahan menuju pintu boarding yang dijaga petugas. Sebagian pemudik tampak berdiri gelisah sambil menggenggam tiket dan menjaga barang bawaan di tengah keramaian.

Suara pengumuman keberangkatan bersahutan, berpadu dengan langkah cepat penumpang yang tidak sabar segera masuk ke dalam kereta. Di sisi lain, penumpang memilih menunggu di ruang tunggu sembari mengatur napas dari padatnya suasana keberangkatan siang itu.

Seorang pemudik asal Tulung Agung, Andi Nurdiansyah, mengaku tahun ini menjadi pengalaman barunya mengikuti program mudik gratis. Ia memanfaatkan momen libur anak dan cuti kerja untuk pulang kampung bersama keluarga tercinta.

“Ini mudik gratis ikut Jasa Raharja, jadi untuk pengalaman pertama, mengalami mudik gratis, seru. Ya, kebetulan anak-anak sudah libur, jadi saya juga ngambil cuti kerjaan,” kata Andi dengan penuh semangat kepada RRI.CO.ID di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa, 17 Maret 2026.

Pemudik asal Tulung Agung Jawa Timur, Andi Nurdiansyah saat diwawancarai RRI.CO.ID di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa, 17 Maret 2026 (Foto: RRI/Namira Kaguma)

Di balik pengalaman pertamanya itu, Andi mengaku sempat mengalami kesulitan saat mencoba mendapatkan tiket perjalanan. Ia bahkan merasa pesimis karena akses pemesanan tiket sulit dijangkau akibat tingginya minat masyarakat.

Tetapi, keberuntungan berpihak padanya, ia akhirnya mendapat kesempatan mudik melalui bantuan seorang kenalan. “Jadi alternatif, ada kenalan teman untuk bantu, jadi bisa masuk di Jasa Raharja,” ucapnya lega.

Namun, perjalanan pulang tahun ini tidak sepenuhnya menghadirkan kebahagiaan bagi Andi yang menyimpan kerinduan mendalam. Ia mengaku Lebaran kali ini terasa berbeda karena sosok ibu yang menjadi tujuan pulang telah tiada.

Masakan ibu yang biasanya menyambutnya di hari Lebaran, kini telah dua tahun tidak lagi tercium aromanya di rumah. Andi menyebut setibanya di kampung halaman akan langsung menuju makam sang ibu.

Walaupun besok pagi nyampe sana, estimasi jam setengah tiga ya, nanti habis salat subuh. Kemungkinan insya Allah langsung ke makam dulu, itu yang pertama,” ucap Ayah dua orang anak itu terbata-bata menahan kesedihan.

Selain ziarah, momen Lebaran juga akan diisi Andi dengan tradisi keluarga yang tetap dijaga meski suasana telah berubah. Ia menuturkan kebiasaan makan bersama dan berkumpul keluarga tetap dilakukan meski sosok ibu telah tiada.

Di tengah kisah Andi, pemudik lain juga merasakan perjuangan mendapatkan tiket mudik pada musim Lebaran tahun ini. Mahmuda mengaku harus berjuang berjam-jam demi memperoleh tiket mudik gratis bersama keluarganya.

“Sangat luar biasa, aduh berjam-jam, pokoknya harus garcep banget, dapetnya susah,” ujarnya. Ia mengaku lega setelah berhasil mendapatkan tiket dan dapat pulang Lebaran dengan keluarga kecilnya ke Probolinggo, Jawa Timur.

Pemudik tujuan Probolinggo, Jawa Timur, Mahmuda saat diwawancarai RRI.CO.ID di ruang tunggu Stasiun Senen, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2026 (Foto: RRI/Namira Kaguma)

Meski kedua orang tuanya telah tiada, Mahmuda tetap memilih pulang untuk menjaga hubungan dengan keluarga besarnya. Baginya, suasana Lebaran di kampung memberikan kehangatan yang tidak dapat dirasakan saat berada di Jakarta.

“Kalau di kampung suasananya beda, kumpul keluarga semua, itu aja yang dikangenin,” ujarnya. Ia juga menuturkan tradisi silaturahmi berlangsung lebih lama hingga beberapa hari setelah Lebaran.

Mahmuda juga mengatakan program mudik gratis dari PLN ini sangat membantunya untuk merasakan mudik ke kampung halaman. Perjalanan panjang yang akan ditempuh tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali ke kampung halaman.

Menurutnya, mudik menjadi cara untuk kembali merasakan kedekatan emosional yang hanya hadir di kampung halaman. “Kalau tradisi sih masih lekat banget,” ucapnya.

“Misalkan kalau habis sholat Idulfitri kita tuh kan hampir satu lingkungan keluarga semua. Jadi ya kayak nggak kelar-kelar gitu loh silaturahminya Kalau di kampung kan biasanya sampai ketujuh, lebaran ketupat begitu,” kata Mahmuda pemudik asal Probolinggo itu dengan senyuman.

Di tengah padatnya arus mudik, perjalanan pulang bukan sekadar perpindahan dari kota ke desa. Mudik menjadi ruang emosional yang mempertemukan rindu, kenangan, dan harapan dalam satu perjalanan panjang menuju rumah.

Rekomendasi Berita