Cuaca Ekstrem Tantangan Arus Penerbangan Mudik Bandara Soetta
- 17 Mar 2026 17:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mudik Lebaran
- AirNav Indonesia
RRI.CO.ID, Tangerang - Tantangan terbesar dalam operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada periode angkutan mudik Lebaran 2026, adalah faktor cuaca. Maka, AirNav Indonesia menerapkan Ground Delay Program (GDP) untuk mencegah delay penerbangan akibat penumpukan pesawat.
"Strategi ini dilakukan dengan menahan pesawat di bandara keberangkatan. Agar tidak terjadi holding atau antrean yang terlalu lama di udara saat akan mendarat di Bandara Soetta," ujar Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro, Selasa 17 Maret 2026.
Menghadapi lonjakan arus mudik Lebaran 2026, sambung Setio, AirNav Indonesia memperkuat pengawasan lalu lintas udara. Khususnya di Bandara Soetta sebagai bandara tersibuk di Indonesia.
Setio mengungkapkan sejak Sabtu 14 Maret 2026, jumlah pergerakan pesawat harian di Bandara Soetta kini mencapai angka 1.183 penumpang. Jumlah ini mendekati angka saat puncak pra-pandemi yang pernah menyentuh hingga 1.300 per hari.
Sementara terkait gangguan layang-layang dan sinar laser dari masyarakat di sekitar Bandara Soetta, Setio mengaku hingga kini nihil laporan. Hal ini menurutnya tak lepas dari gencarnya sosialisasi AirNav bersama Kepolisian terkait larangan bermain layang-layang.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani memastikan integrasi data dan informasi cuaca berjalan optimal. Khisusnya dalam mendukung keselamatan penerbangan selama periode mudik Lebaran.
Faisal mengaku BMKG secara rutin menyediakan prakiraan cuaca hingga 24 jam ke depan sebagai dasar perencanaan operasional bandara. Informasi kondisi cuaca untuk kegiatan lepas landas dan pendaratan pesawat diperbarui setiap 30 menit.
"Apabila terdeteksi potensi perubahan cuaca signifikan dalam kurun waktu dua jam ke depan, BMKG akan segera menerbitkan Special Report. Melalui Special Report tersebut, AOCC bersama Angkasa Pura dan AirNav Indonesia dapat segera mengambil langkah antisipasi dan mitigasi guna menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan," ucapnya.
Untuk mendukung akurasi data, BMKG telah menempatkan Automatic Weather Observing System (AWOS) Kategori 3 di setiap landas pacu Bandara Soekarno-Hatta. Data dari peralatan tersebut diolah dan disampaikan dalam bentuk informasi penerbangan lengkap (METAR) yang mencakup kondisi cuaca di bandara asal, bandara tujuan, hingga sepanjang rute penerbangan.
“Informasi ini menjadi dasar penting bagi pilot, AirNav dan maskapai untuk menentukan keputusan 'go or no go' dalam setiap penerbangan. Selain aspek keselamatan penerbangan, antisipasi cuaca ekstrem terus diintensifkan," kata dia.