Arus Mudik Lebaran, AirNav Perkuat Awasi Ruang Udara
- 17 Mar 2026 03:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bandara Soetta
- Eskalasi Timur Tengah
- Setio Anggoro
- Ditjen Imigrasi
- Yuldi Yusman
RRI.CO.ID, Tangerang - AirNav Indonesia memperkuat pengawasan ruang udara dan memastikan kesiapan layanan navigasi penerbangan. Hal ini guna mendukung kelancaran serta keselamatan operasional selama periode angkutan Lebaran 2026.
Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro mengatakan peningkatan pergerakan penerbangan selama musim mudik telah diantisipasi. Hal ini melalui berbagai langkah kesiapan operasional diseluruh unit layanan navigasi penerbangan.
"AirNav Indonesia telah menyiapkan seluruh aspek operasional untuk memastikan pelayanan navigasi penerbangan selama periode angkutan Lebaran. Tentunya agar dapat berjalan aman, lancar, dan efisien," ujarnya, Senin 16 Maret 2026, malam.
Ia menyebutkan kesiapan tersebut mencakup personel operasional, fasilitas navigasi penerbangan serta penguatan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan. Untuk mendukung pengelolaan lalu lintas udara secara optimal, AirNav Indonesia mengoperasikan Indonesia Network Management Centre (INMC).
Hal tersebut, lanjutnya, sebagai pusat orkestrasi pelayanan navigasi penerbangan nasional yang memantau dan mengoordinasikan operasional penerbangan secara real time di seluruh wilayah udara Indonesia. AirNav Indonesia juga memastikan kesiapan dukungan operasional yang meliputi lebih dari 2.800 fasilitas komunikasi, navigasi, surveillance, dan sistem ATC.
"Untuk petugas ATC sendiri, ada lebih dari 1.700 petugas yang in-charge selama periode ini, di semua kantor pelayanan AirNAv Indonesia. Kemudian, untuk memperkuat dukungan operasional, AirNav juga menugaskan lebih dari 1.000 petugas Air Traffic Service Engineers untuk memastikan kesiapan dan keandalan peralatan fasilitas," ucapnya.
”Sebagai tambahan, kami juga menempatkan sedikitnya 160 Aeronautical Information Service Officers. Ditambah lagi lebih dari 490 Air Communication Officers,” tambah Setio.
Selain itu, kesiapan prosedur navigasi penerbangan juga telah dipastikan di ratusan bandara di Indonesia. Termasuk prosedur keberangkatan (Standard Instrument Departure/SID), kedatangan (Standard Terminal Arrival Route/STAR), dan pendekatan pendaratan (Initial Approach Procedures/IAP) guna menjaga efisiensi dan keselamatan operasional penerbangan.
Lebih lanjut Setio menegaskan peningkatan trafik penerbangan selama periode Lebaran juga diiringi dengan peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko keselamatan penerbangan salah satunya gangguan balon udara liar. “Kami terus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi hazard selama periode Lebaran, seperti cuaca ekstrem, abu vulkanik, balon udara liar, potensi bird strike, serta gangguan operasional bandara maupun maskapai," katanya
Dia mengatakan seluruh personel operasional juga diingatkan untuk meningkatkan disiplin terhadap prosedur serta koordinasi antar unit untuk menjaga keselamatan penerbangan. Ia juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keselamatan penerbangan, khususnya terkait potensi balon udara liar yang kerap muncul pada periode Lebaran.
Dua wilayah yang kerap mendapatkan sorotan akibat aktivitas balon udara liar, antara lain Kabupaten Wonosobo dan Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Namun belakangan, sejumlah wilayah lain juga mengindikasikan adanya aktivitas tersebut.
AirNav Indonesia terus melakukan kampanye keselamatan kepada masyarakat mengenai bahaya balon udara liar bagi penerbangan, melalui berbagai media. "Namun, masalah ini tidak akan serta merta bisa diselesaikan oleh AirNav sendirian. Kami berharap kesadaran bersama dapat terus meningkat sehingga ruang udara Indonesia tetap aman bagi seluruh penerbangan,” ujar Setio.
Plt. Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman mengaku pihaknya juga meningkatkan kesiapsiagaan di seluruh Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) udara. Hal ini menyusul eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah mengakibatkan penutupan wilayah udara di sejumlah negara, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Iran.
Situasi ini berdampak langsung pada operasional penerbangan internasional dari dan menuju Indonesia. Berdasarkan laporan pemantauan tercatat sebanyak delapan penerbangan internasional di tiga bandara utama (Soekarno-Hatta, Ngurah Rai dan Kualanamu) mengalami pembatalan atau penundaan.
Hal ini berdampak pada total 2.228 penumpang, yang terdiri dari 1.644 Warga Negara Asing (WNA) dan 584 Warga Negara Indonesia (WNI). Maka, jajarannya telah melakukan langkah cepat dengan melakukan pembatalan perlintasan (pembatalan keberangkatan) baik secara manual maupun sistem bagi penumpang dan kru maskapai yang terdampak.
“Ditjen Imigrasi memastikan pelayanan keimigrasian di bandara tetap berjalan optimal dan kondusif. Fokus kami adalah menjaga kelancaran pelayanan, ketertiban pemeriksaan, serta kepastian prosedur bagi penumpang yang terdampak pembatalan atau pengalihan penerbangan,” kata Yuldi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....