Eskalasi Timur Tengah, Ribuan Pekerja Migran Mudik Lebaran

  • 14 Mar 2026 13:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI CO.ID, Tangerang - Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melakukan rapat koordinasi penangananan mudik Lebaran 2026, bagi pekerja migran. Terlebih kondisi saat ini sedang terjadi eskalasi dikawasan Timur-Tengah.

"Hari ini kita melakukan rapat koordinasi antar stakeholder di Bandara Soekarno-Hatta. Terkait persiapan kita untuk menyambut teman-teman PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang pulang mudik Lebaran," ujar Direktur Layanan Pengaduan Mediasi dan Advokasi pada Pemberi Kerja Berbadan Hukum KP2MI, Mangiring Hasoloan Sinaga, Jumat, 13 Maret 2026.

Mangiring mengatakan, persiapan bakal dilaksanakan mulai hari ini hingga 30 Maret 2026 mendatang. Sehingga, bukan hanya penanganan arus mudik, akan tetapi arus baliknya.

"Jadi kita melalui teman-teman seluruh pelayanan kita di helpdesk dan lounge KP2MI di seluruh bandara internasional dan bandara-bandara domestik. Ditambah lagi di pelabuhan-pelabuhan internasional dan poslintas batas, siaga melayani kepulangan pekerja migran," ujarnya,

Berdasarkan data tahun sebelumnya, kata

Mangiring, sebanyak 4.129 pekerja migran melakukan mudik Lebaran. Kemungkinan, dengan adanya eskalasi di Timur Tengah bakal mengalami lonjakan.

"Mengenai berapa jumlah prediksinya mungkin nanti bisa kita koordinasikan dengan teman-teman kita di Direktorat Pemulangan. Namun, kemungkinan bisa terjadi dan ditambah juga dengan kasus Timur Tengah, ini juga bisa ada lonjakan," ujarnya.

Mangiring merinci mayoritas paling banyak pekerja migran yang mudik Lebaran dari Malaysia, Singapura dan juga dari Timur Tengah. "Bukan dari Iran ya, karena Iran bukan negara penempatan pekerja migran," ucapnya.

Sementara itu, Kepala BP3MI Banten, Budi Novijanto mengatakan, fokus penangan dari rakor ini adalah pekerja migran yang bekerja di Timur Tengah. Karena dampak eskalasi membuat maskapai penerbangan itu membatalkan.

"Banyak membatalkan jadwal penerbangan mereka yang dari Timur Tengah. Sehingga ini menjadi permasalahan daripada pekerja migran yang bekerja di Timur Tengah untuk bisa kembali ke Indonesia, untuk mudik Lebaran," ujarnya.

Sementara ini, lanjut dia, sekitar ribuan yang bekerja di Timur Tengah dan kemungkinan juga belum bisa kembali untuk pulang mudik tahun ini. "Kurang lebih ya mungkin untuk pengurangan sekitar di angka 50 persen bila dibandingkan tahun lalu," kata dia.

Adapun kendala yang muncul adalah keterbatasan daripada penerbangan untuk kembali ke Indonesia. "Bila mengacu pada tahun lalu, pekerja migran paling banyak untik kawasan Timur Tengah di Arab Saudi dan juga Dubai, mereka pekerja profesional, karena jalur formal moratirium," ucap Budi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....