Warga Binaan Lapas Luwuk Ubah Limbah Plastik Jadi Bunga Bernilai Ekonomi

  • 13 Jun 2026 18:06 WIB
  •  Ampana

RRI.CO.ID, Banggai - Warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk menunjukkan kreativitas melalui program pembinaan kemandirian dengan memanfaatkan limbah plastik menjadi bunga sintetis bernilai ekonomis. Kegiatan yang berlangsung di area bimbingan kerja Lapas Luwuk, Sabtu 13 Juni 2026 tersebut tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Berbagai jenis limbah plastik bekas yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna diolah menjadi aneka bunga sintetis dengan bentuk dan warna yang menarik. Produk hasil karya warga binaan itu memiliki nilai jual dan berpotensi dipasarkan kepada masyarakat sebagai produk kerajinan.

Dalam proses pembuatannya, warga binaan mendapatkan pendampingan dari petugas pembinaan, mulai dari teknik pemilahan bahan, pembentukan kelopak bunga, pewarnaan, hingga perakitan menjadi rangkaian bunga yang siap dipasarkan. Selain membantu mengurangi sampah plastik, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan.

Salah seorang warga binaan berinisial O mengaku senang dapat mengikuti program tersebut. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal berharga setelah menyelesaikan masa pidana.

"Awalnya saya tidak menyangka limbah plastik bisa diubah menjadi bunga yang cantik dan memiliki nilai jual. Kegiatan ini membuat saya lebih produktif, menambah keterampilan baru, dan memberikan harapan untuk memiliki usaha sendiri setelah selesai menjalani masa pidana," ungkapnya.

Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Andi Abdul Muis, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan saat kembali ke tengah masyarakat.

"Pembinaan kemandirian merupakan salah satu fokus utama kami dalam menyiapkan warga binaan agar memiliki bekal keterampilan yang bermanfaat saat bebas nanti. Melalui pemanfaatan limbah plastik menjadi bunga sintetis, mereka tidak hanya belajar berkreasi dan berwirausaha, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui konsep daur ulang yang bernilai ekonomi," ujarnya.

Ia menambahkan, hasil karya warga binaan menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter, tetapi juga peningkatan kompetensi dan produktivitas.

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Maulana Luthfianto, mengapresiasi inovasi pembinaan yang dilaksanakan Lapas Luwuk.

"Program ini merupakan implementasi nyata pembinaan yang berorientasi pada pemberdayaan warga binaan. Selain mendukung pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan limbah plastik, kegiatan ini juga membekali mereka dengan keterampilan yang memiliki nilai ekonomis. Kami berharap program seperti ini terus dikembangkan sehingga mampu menciptakan warga binaan yang mandiri, produktif, dan siap berkontribusi positif di tengah masyarakat setelah bebas nanti," katanya.

Melalui program pembinaan kemandirian tersebut, Lapas Luwuk berkomitmen menghadirkan berbagai kegiatan positif guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia warga binaan. Dengan mengubah limbah plastik menjadi karya bernilai ekonomi, warga binaan membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk terus berkarya, berinovasi, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....