Sidak Limbah Tambak Udang Desa Sabo, PPLH Touna Pastikan Ekosistem Laut Aman
- 13 Jun 2026 04:39 WIB
- Ampana
RRI.CO.ID, Touna - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melalui tim Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPLH) Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) bergerak cepat merespons laporan masyarakat.
Merespon laporan masyarakat tersebut DLH Touna melakukan pengecekan dua lokasi usaha budidaya udang di Desa Sabo dan Padauloya, Kecamatan Ampana Tete, pada Kamis 12 Juni 2026.
Tim PPLH turun langsung ke lapangan guna mengecek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL/ITLC).
Langkah ini bertujuan memastikan aktivitas tambak tidak merusak ekosistem hutan bakau maupun mencemari perairan laut sekitar.
Pengawas Lingkungan Hidup Kabupaten Tojo Una-Una, Andi Masrang, menegaskan bahwa pihaknya rutin melakukan pengawasan setiap semester.
Tim menguji berbagai parameter, mulai dari baku mutu udara, baku mutu air permukaan, hingga air laut.
“Kami tidak main-main soal pengawasan lingkungan. Jika kami menemukan indikasi pencemaran, sanksi tegas menanti pelaku usaha. PPLH bahkan langsung meneruskan laporan ke Balai Gakkum untuk menindak oknum yang melanggar,” tutur Andi.
Tim PPLH menyasar dua titik budidaya dalam agenda pemantauan tersebut. Titik pertama merupakan tambak perseorangan yang menyewa lahan di Desa Sabo.
Pemilik menunjukkan langsung sistem pembuangan limbah dan melengkapi diri dengan dokumen lingkungan kepada petugas.
Lokasi kedua menyasar fasilitas milik PT Berkah Utama Budidaya.
Perusahaan ini mengelola lahan seluas 5.000 meter persegi dengan total empat kolam aktif.
Hasil pemeriksaan visual di lapangan belum menemukan indikasi kerusakan lingkungan akibat pembuangan limbah dari perusahaan tersebut.
Pemerintah daerah berharap seluruh pengusaha tambak di Touna tetap mematuhi aturan analisis dampak lingkungan demi keberlanjutan ekosistem bersama.
Staf Teknis Budidaya PT Berkah Utama Budidaya, Rahmat, menjelaskan bahwa perusahaannya baru saja merampungkan panen raya tiga bulan lalu.
Mereka mendistribusikan sekitar 20 ton udang dengan harga Rp44.000 per kilogram ke pasar Makassar.
Terkait pengelolaan limbah, Rahmat memastikan perusahaannya menjaga standar operasional yang ketat.
Alasannya sederhana, pasokan air kolam berasal langsung dari laut di sekitar lokasi sehingga likungan disekitarnya harus dijaga kebersihannya.
“Kami menyedot air laut langsung ke kolam. Konsekuensinya, kami wajib menjaga kebersihan IPAL. Sebab, air yang kami buang ke laut nantinya kami sedot kembali untuk operasional. Kalau kolam tercemar, produksi kami juga yang hancur,” papar Rahmat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....