Gema Salawat Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Luwuk Tekuni Seni Marawis

  • 10 Mei 2026 10:59 WIB
  •  Ampana

RRI.CO,ID, Banggai - Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk intensif menekuni seni musik marawis sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian berbasis religi untuk meningkatkan kualitas spiritual selama menjalani masa pidana.

Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin tersebut menjadi wadah kreativitas positif bagi para Warga Binaan melalui lantunan salawat dan irama perkusi tradisional bernuansa Islami, Sabtu 9 Mei 2026.

Program pembinaan kesenian religi ini mendapat antusias tinggi dari para peserta. Tangan-tangan yang dahulu pernah berada di jalan yang keliru, kini memainkan alat musik tradisional dengan penuh semangat dan kekompakan.

Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, mengatakan seni marawis dipilih sebagai salah satu instrumen pembinaan kepribadian karena dinilai efektif menyentuh sisi emosional dan spiritual para Warga Binaan.

“Kami ingin mereka merasa bahwa tembok penjara bukanlah akhir dari segalanya. Melalui marawis, mereka belajar tentang kekompakan, disiplin, dan yang terpenting adalah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui salawat yang mereka lantunkan,” ujar Bahrun.

Salah seorang Warga Binaan berinisial SA yang menjadi penabuh utama mengaku menemukan ketenangan sejak mengikuti kegiatan tersebut.

“Dulu pikiran saya sering kacau dan merasa putus asa. Tapi sejak bergabung di grup marawis ini, hati jadi lebih tenang. Ada rasa bangga saat kami bisa membawakan lagu dengan kompak,” ungkapnya.

Menurutnya, grup marawis bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, tetapi juga menjadi ruang pembuktian bahwa perubahan perilaku dapat diwujudkan melalui karya dan pembinaan yang positif.

“Awalnya sulit menyamakan tempo, tapi karena setiap hari berlatih bersama, kami jadi kompak. Kami merasa lebih dihargai dan memiliki bekal keterampilan yang bisa kami bawa pulang nanti,” tambahnya.

Grup marawis Lapas Luwuk juga dipersiapkan untuk tampil pada berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan Lapas, seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Miraj, hingga penyambutan kunjungan resmi jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Melalui kegiatan tersebut, pembinaan di dalam Lapas diharapkan tidak lagi berorientasi pada pola penghukuman semata, tetapi mengedepankan pendekatan rehabilitatif dan edukatif agar Warga Binaan memiliki bekal spiritual dan keterampilan saat kembali ke tengah masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....