Ramadan Glow Up, Bukan Hanya Fisik tapi Hati
- 28 Feb 2026 19:56 WIB
- Ampana
RRI.CO.ID, Palu - Bulan suci Ramadan kerap dimaknai sebagai momen reset tahunan bagi umat Muslim dalam memperbaiki diri secara menyeluruh. Tren glow up yang populer di kalangan generasi muda pun kini tak lagi sekadar tentang penampilan fisik, melainkan juga tentang mempercantik hati dan memperkuat spiritualitas.
Perubahan pola hidup selama Ramadan, sejatinya membuka peluang besar untuk transformasi positif. Dari bangun lebih awal untuk sahur, memperbanyak ibadah, hingga mengatur ulang prioritas harian, semuanya menjadi bagian dari proses pembentukan disiplin diri.
Secara fisik, puasa yang dijalani dengan pola makan seimbang dapat membantu tubuh melakukan detoks alami. Konsumsi makanan bernutrisi saat sahur dan berbuka, mengurangi gula berlebihan, serta memperbanyak air putih menjadi langkah sederhana untuk menjaga kebugaran.
Tak sedikit pula yang memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memulai olahraga ringan, seperti jalan kaki sore atau stretching setelah tarawih.
Namun, glow up sejati di bulan Ramadhan tidak berhenti pada perubahan luar karena pembenahan hati justru menjadi inti dari transformasi tersebut. Memperbanyak introspeksi, memperbaiki hubungan dengan keluarga, serta mengurangi kebiasaan buruk seperti bergosip atau marah berlebihan menjadi bagian dari proses pembersihan batin.
Praktik spiritual seperti doa dan dzikir dapat membantu menenangkan sistem saraf serta menurunkan tingkat stres. Artinya, ketenangan batin yang terbangun selama Ramadan berkontribusi langsung pada aura positif seseorang.
Inilah yang membuat glow tersebut terasa berbeda, bukan sekadar cerah di wajah tapi juga teduh dalam sikap.
Di era media sosial, tantangan terbesar justru menjaga keikhlasan dengan banyak yang membagikan perjalanan ibadah atau perubahan diri secara daring. Meski tidak salah, para tokoh agama mengingatkan pentingnya menjaga niat agar transformasi yang dilakukan tetap berlandaskan ketulusan, bukan sekadar validasi.
Ramadan pada akhirnya adalah ruang latihan dalam mengendalikan diri, menguatkan empati, dan memperbaiki kualitas hubungan dengan Sang Pencipta maupun sesama manusia. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, 30 hari ini bisa menjadi fondasi perubahan jangka panjang. (YS)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....