Festival Molupi 2026 Sarana Pemersatu Penduduk dan Pelestarian Kearifan Lokal

  • 16 Sep 2026 16:10 WIB
  •  Ampana

RRI.CO.ID, Touna - Festival Molupi 2026, selain sebagai sarana pemersatu antar penduduk, juga menjadi wadah yang di gagas oleh pemerintah daerah Tojo Una Una untuk melestarikan kearifan lokal suku bare’e dan taa.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi, saat ini masyarakat di berbagai tempat, termasuk di Tojo Una Una sudah semakin mudah mengenal dan melihat budaya dari berbagai belahan dunia.

Namun, di sisi lain, fenomena atau kondisi perkembangan era digital ini juga menimbulkan tantangan serius terhadap upaya pelestarian kedudayaan local di berbagai daerah seperti di Tojo Una Una Sulawesi Tengah.

Dimana banyak tradisi, kesenian, dan nilai-nilai kearifan lokal di di daerah ini, yang mulai terpinggirkan karena kurang dikenal oleh generasi mudanya sendiri maupun masyarakat luas di wilayah itu sendiri.

Menyikapi kondisi ini, diperlukan berbagai upaya untuk menjaga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada public terutama kepada regenarasi di daerah ini agar mereka tidak hanya sebatas mengenalnya namun menjaga dan melestarikannya.

Salah satu tokoh pemerhati budaya Tojo Una Una Zahid Palampanga S.E., MM., di temui Rabu 16 September 2026, mengapresiasi Festival Molupi 2026 yang di gagas oleh Pemkab Touna sebagai wadah pemersatu dan pelestarian kearifan lokal kususnya Taa dan Bare’e.

“Alhamdulillah dengan kegiatan festival molupi 2026, ini cukup baik dalam mempersatukan masyarakat Tojo Una Una yang tersebar di 12 Kecamatan mulai dari Kepulauan Togean, hingga Kecamatan Tojo Barat, tapi yang terpenting dalam kegiatan ini adalah upaya pelestarian kearifan lokal seperti bahasa daerah, Bare,e dan Taa,” ujar Sahid.

Salah satu cara yang terbukti efektif untuk mempertahankan kearifan lokal adalah melalui penyelenggaraan festival budaya. Momen ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi, pelestarian budaya, penguatan identitas daerah, serta promosi pariwisata.

Zahid Palampangan juga menyarankan sebagai bentuk kesungguhan melestarikan budaya dan bahasa kususnya Bare’e dan Taa sebaiknya dilaksanakan di setiap desa kelurahan dan Kecamatan sehingga upaya pelestarian kearifan lokal benar benar maksimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....