Wisata Edukasi Hutan Sagu Rutong Favorit Pelajar di Ambon

  • 13 Mei 2026 13:22 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Peningkatan kunjungan wisatawan ke Eko Wisata Hutan Sagu Negeri Rutong, Leitimur Selatan, Kota Ambon, terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Objek wisata berbasis edukasi lingkungan ini kini menjadi tujuan favorit para pelajar mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama yang datang untuk belajar langsung tentang sagu sebagai identitas pangan masyarakat Maluku.

Berbeda dengan objek wisata lain di Pulau Ambon yang lebih menonjolkan panorama pantai, Eko Wisata Hutan Sagu Rutong menawarkan pengalaman belajar di tengah hutan alami yang masih terjaga. Para pengunjung tidak hanya menikmati suasana rindang dan aliran air yang bersumber dari kawasan hutan sagu, tetapi juga diperkenalkan pada pentingnya sagu sebagai makanan pokok masyarakat Maluku sejak dahulu kala.

Di lokasi wisata tersebut, para pengunjung didampingi langsung oleh pemandu wisata yang memberikan penjelasan rinci mengenai pohon sagu, jenis-jenisnya, hingga proses pengolahan sagu secara tradisional dan moderen. Salah satu pemandu Eko Wisata Hutan Sagu Rutong, Buce Telapary, menjelaskan bahwa sagu bukan sekadar bahan pangan, tetapi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat Maluku.

“Di sini anak-anak belajar langsung tentang jenis-jenis sagu, alat yang dipakai untuk produksi sagu, sampai bagaimana proses pengolahan dilakukan secara tradisional,” kata Buce Telapary saat mendampingi rombongan pelajar dan pengunjung lainnya di kawasan hutan sagu.

Pemandu eko wisata sagu Rutong sementara menjelaskan tentang sagu (foto Philip)

Menurutnya, proses pengolahan sagu dimulai sejak batang sagu ditebang di hutan. Setelah itu batang sagu dipotong menjadi beberapa bagian sebelum diolah, hingga menghasilkan sagu manta atau tepung sagu yang siap dikonsumsi masyarakat.

“Sagu setelah ditebang di hutan langsung dipotong dalam beberapa penggalan, sebelum diolah hingga menjadi sagu manta. Alat yang digunakan namanya nani, terbuat dari bambu,” katanya sambi memegang alat peraga pemukul sagu (nani)

Selain menjelaskan proses produksi, Buce juga memperkenalkan nilai adat dan budaya masyarakat Maluku dalam menjaga tradisi sagu. Ia menyebutkan bahwa hasil olahan sagu bukan hanya untuk diperjualbelikan, tetapi juga dibagikan kepada warga sebagai bentuk kebersamaan dan solidaritas sosial.

“Setelah jadi sagu, sagu itu selain dijual juga dibagikan kepada warga untuk menikmatinya bersama-sama sebagai makanan pokok,” ujar Telapary.

Sementara itu, salah satu siswa Sekolah Dasar di Kota Ambon, Rafa Siegers, mengaku sangat senang bisa mengunjungi objek wisata tersebut. Menurutnya, pengalaman belajar langsung di hutan sagu memberikan pengetahuan baru yang tidak didapatkan di ruang kelas.

“Beta sangat senang dan bangga bisa ada di objek wisata ini. Bisa tau apa itu sagu, pohon sagu seperti apa, dan diberi kesempatan memukul sagu di tempat ini,” ucap Rafa sambil mengayunkan alat pengolahan sagu (nani)

Rafa juga mengaku terkesan dengan penjelasan yang diberikan para pemandu wisata. “Enak lai berada di sini, selain bisa nikmati suasana hutan juga bisa dengar penjelasan om Buce tentang sagu, jenis-jenis sagu, bagaimana sagu diolah mulai dari hutan sampe jadi sagu,” katanya. Kehadiran wisata edukasi ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap pangan lokal dan pelestarian hutan sagu di Maluku.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....