Agrowisata Hutan Keleliang, Hadirkan Rempah Legendaris Pala Banda

  • 10 Nov 2025 07:39 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Sejak abad ke-16, aroma pala dari Kepulauan Banda telah mengundang bangsa-bangsa Eropa datang berlayar ribuan mil. Rempah bernilai tinggi ini bukan sekadar bumbu dapur, ia pernah menjadi komoditas strategis yang mengubah peta ekonomi dan politik dunia.

Banda pun menjelma sebagai pusat perdagangan pala global, dengan kualitas minyak atsiri yang unggul dan rasa khas yang tak tertandingi.

Namun, kejayaan itu sempat meredup di abad ke-20. Perang, perubahan sistem dagang, dan eksploitasi berabad-abad membuat populasi pohon pala menurun drastis.

Meski begitu, masyarakat Banda tak menyerah. Mereka tetap menjaga tradisi budidaya pala secara turun-temurun, dengan sistem pertanian berbasis kearifan lokal yang membuat kualitas pala Banda tetap terjaga hingga kini.Kini, kekayaan itu tak hanya dinikmati lewat perdagangan, tapi juga lewat wisata.

Agrowisata Hutan Keleliang di Pulau Lonthoir menjadi salah satu destinasi unggulan bagi wisatawan yang ingin melihat lebih dekat kekayaan pala Banda. Lokasi ini menghadirkan pengalaman belajar langsung tentang pohon pala, proses budidaya, hingga sejarah panjangnya sebagai rempah bernilai tinggi.

Perjalanan kami ke hutan wiaata ini beberapa waktu lalu penuh tantangan tapi mengasyikkan. Kawasan ini tumbuh pohon-pohon pala besar yang menjulang lebih dari tujuh meter dan dipelihara secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Saat memasuki area agrowisata, pengunjung akan menemukan papan informasi yang menjelaskan sejarah, manfaat, dan cara budidaya pala. Beberapa pohon diberi papan keterangan khusus yang membantu pengunjung mengenali bagian-bagian tanaman pohon.

Tidak hanya itu, terdapat pula area pembibitan pala yang dikelola warga sebagai upaya mempertahankan populasi pohon pala di Banda. Pengunjung dapat melihat bibit pala, proses perawatannya, hingga buah pala yang menggantung langsung dari batang pohon.

Untuk mencapai kawasan Agrowisata Hutan Keleliang, wisatawan disarankan menggunakan sepeda motor. Lokasinya berada cukup jauh dari Pelabuhan Banda Neira dan terletak di kawasan perbukitan, namun perjalanan tersebut akan terbayar dengan pemandangan alam yang asri dan udara segar khas Banda.

Selain menjadi ruang belajar, agrowisata ini juga memperlihatkan peran penting pala bagi hekonomi masyarakat Banda. Tak heran, Hasil olahan pala, seperti manisan, sirup, dan camilan khas, dijual sebagai oleh-oleh populer di pelabuhan utama Banda Neira.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....