Transformasi Gaya Hidup Wisatawan Indonesia di Era Industri 5.0

  • 12 Mei 2025 18:13 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon : Di era serba cepat dan serba digital seperti sekarang, gaya hidup para wisatawan pun ikut berubah drastis sesuai perkembangan.

"Selamat datang di era Industri 5.0, sebuah babak baru yang menyatukan kecanggihan teknologi dengan sentuhan kemanusiaan," tutur Pengamat Budaya, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo kepada RRI, Senin (12/5/2025).

Waluyo mengatakan, Kini liburan tak sekadar soal memotret panorama indah atau membeli oleh-oleh. Wisatawan era baru ini datang dengan ekspektasi tinggi mengandalkan teknologi cerdas untuk merencanakan perjalanan, mencari pengalaman personal yang bermakna, hingga memastikan langkah mereka tak meninggalkan jejak yang merusak bumi.

Kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), hingga big data telah menjadi “teman seperjalanan” wisatawan masa kini. Mereka ingin tahu kondisi cuaca secara real-time, mencari spot wisata antimainstream, hingga menyusun itinerary personal lewat aplikasi pintar. Mereka juga semakin peduli pada dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas wisata.

Inilah cerminan Society 5.0, konsep dari Jepang yang memadukan teknologi dan kesejahteraan manusia. Dalam dunia pariwisata, ini berarti menciptakan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Perjalanan kini dimulai dari layar smartphone. Mulai dari pemesanan tiket, mencari penginapan, hingga membayar makanan pun dilakukan lewat gawai. "Infrastruktur digital di Indonesia pun makin menunjang: akses internet makin merata, aplikasi wisata berbasis AI makin canggih, dan layanan virtual makin variatif," jelas Waluyo.

Sementara itu, teknologi AR dan VR bahkan memungkinkan wisatawan menjelajah candi atau terumbu karang dari rumah. Destinasi pun ikut berbenah: sensor pintar dipasang untuk memantau keramaian, cuaca, bahkan sampah.

Para wisatawan saat ini mencari pengalaman yang menyentuh hati, menyatu dengan alam, mengenal budaya lokal, dan memberi manfaat bagi komunitas setempat. Di sinilah teknologi membantu mengemas pengalaman itu jadi lebih menarik dan berdampak.

Wisata virtual, misalnya, bisa menjadi ‘icipan’ sebelum mereka benar-benar datang. Teknologi juga mempermudah integrasi dengan masyarakat lokal, menjadikan mereka tuan rumah sekaligus pelaku utama dalam industri pariwisata.

Namun menurut Waluyo, semua perubahan ini tentu bukan tanpa tantangan. Kesenjangan infrastruktur digital antarwilayah masih nyata. Sumber daya manusia yang melek teknologi pun belum merata. Ditambah lagi, isu keamanan data pribadi wisatawan menjadi PR tersendiri.

Di sisi lain, teknologi bisa menjadi jawaban atas tantangan over-tourism. Sistem digital dapat mengatur jumlah pengunjung, memantau dampak lingkungan, dan mengarahkan wisatawan ke destinasi alternatif yang tak kalah mempesona.

Era Industri 5.0 memberi peluang besar bagi Indonesia untuk melompat lebih jauh dalam industri pariwisata. Tapi, loncatan ini butuh fondasi kokoh—mulai dari investasi teknologi, pelatihan SDM, hingga kolaborasi lintas sektor.

Dengan kekayaan budaya dan alam yang tak ternilai, Indonesia punya semua bahan baku untuk menjadi destinasi unggulan dunia. Tinggal bagaimana meraciknya dengan sentuhan teknologi dan kesadaran keberlanjutan yang tinggi.

"Di masa depan, berwisata bukan lagi soal ke mana kita pergi, tapi bagaimana kita menjalani dan memberi makna dalam setiap langkah perjalanan," tutup Waluyo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....