Masjid Tua Wapaue, Penjaga Waktu Tak Tergoyahkan
- 08 Jan 2025 12:09 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Jika berbicara tentang Negeri Kaitetu, satu hal yang terbersit dalam fikiran adalah Masjid Tua Wapaue.
Masjid yang awalnya berada di kaki Gunung Wawane, yang kemudian pindah secara gaib ke perkampungan Kaitetu saat ini.

Masjid yang dibangun pada Tahun 1414 itu kini masih berdiri kokoh dengan menyimpan sejuta kenangan dan sejarah penyebaran Islam di tanah Hitu, Maluku.
Untuk merawat tradisi sejarah Masjid Tua Wapaue, masyarakat setempat kerap melakukan perbaikan-perbaikan kecil. Misalnya perbaikan atap masjid, kayu yang lapuk dan lainnya.
Perbaikan itu dilakukan dengan menggunakan prosesi ritual adat. Cara ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur terdahulu.
Seperti yang dilakukan pada Rabu, (08/01/2025). Masyarakat Kaitetu menggelar ritual adat pemasangan atap Masjid yang dalam bahasa kaitetu disebut Ahapoput atau atap pamali.
Acara ritual dimulai sejak pagi hari dengan serangkaian prosesi adat, seperti doa bersama di Pale (rumah adat) dan serah terima Ahapoput di rumah pusaka Hatuwe.

Serah terima Ahapoput juga tidak dilakukan begitu saja. Namun, ada permintaan yang dilakukan oleh salah satu perwakilan yang keluar dari dalam kora-kora atau Palutu.
Kisah ini menceritakan tentang perjalanan masyarakat Kaitetu yang awalnya bermukim di gunung dan turun ke pesisir pantai, kemudian mendayung menggunakan palutu ke tanjung Kaitetu untuk sama-sama dalam pengerjaan Masjid yang dibangun di abad ke-16 itu.
Usai menerima Ahapoput, masyarakat berjalan menuju lokasi Masjid untuk pemasangan atap pamali. Pelaksanaannya dilakukan oleh Raja Kaitetu dan tukang 12 (kasisi masjid).

Perjalanan menuju lokasi masjid diiringi tarian Cakalele yang dikawal dua orang kapitan yakni Kapitan Hatuwe dan Kapitan Laing dan tiga nyai-nyai dari tiga soa yaitu Soa Lumaela, Hatuwe dan Nukuhaly.
Ritual adat pemasangan Ahapoput Masjid Tua Wapaue berlangsung sakral. Tak sedikit warga yang kemudian kerasukan. Apalagi dikala tifa cakalele ditabuh yang diselingi dengan bunyi tahuli (suling dari cangkang kerang).
"Katong (kita) bersyukur karena masih bisa ketemu ritual ini. Karena usia dari ahapoput bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun. Kita tidak tahu bisa hidup sampai kapan. Inilah sejarah yang kita rawat untuk setiap generasi di Kaitetu," kata Raja Negeri Kaitetu, M. Armin Lumaela kepada RRI
Raja Lumaela mengaku, ada perasaan emosi, sedih, campur aduk menjadi satu dari prosesi ritual adat ini. Tapi itulah yang harus dilakukan sebagai salah satu cara dalam merawat adat dan tradisi di Kaitetu.
"Meski pengerjaannya tidak sesempurna seperti awal Masjid ini dibangun, tapi kita mencoba untuk terus merawat tradisi ini untuk generasi penerus," ujarnya

Dikatakan, pengerjaan Masjid Tua Wapaue tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat Kaitetu sendiri, tapi juga masyarakat lainnya di wilayah Leihitu.
"Seperti tadi ada juga Raja dari Negeri Seith dan Negeri Lima. Karena menurut catatan sejarah, kita tiga negeri ini bersaudara adik kakak. Ada juga dari saudara kita non muslim dari Hila Tanah Putih, yang datang membawa atap sebagai persembahan mereka ke Kaitetu," tuturnya
Ia menambahkan, sangat bersyukur karena mulai dari pembongkaran hingga penutupan atap masjid, kegiatan ritual adat berjalan aman dan lancar.
Masjid Tua Wapaue menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di tanah Hitu. Keberadaannya menjadi penjaga waktu tak tergoyahkan. Menyimpan rahasia dalam setiap celah.
Tak jarang, banyak turis asing yang datang mengunjunginya. Mereka kagum akan kisah Masjid yang dibangun tanpa pasak atau paku dan pindah secara gaib menurut lisan masyarakat setempat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....