Anak Krakatau Kembali Erupsi: Mungkinkah Tragedi Krakatau 1883 Terulang?

  • 15 Sep 2026 00:37 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya. Gunung api yang tumbuh dari sisa kehancuran Krakatau itu kembali memuntahkan abu vulkanik ke atmosfer. Erupsi terbaru bahkan mengganggu penerbangan dan berdampak pada ratusan ribu penumpang.

‎Peristiwa ini segera menghidupkan kembali ingatan pada salah satu bencana vulkanik paling terkenal dalam sejarah, yaitu letusan Krakatau pada 1883.

‎Nama Krakatau sudah lama menjadi simbol kedahsyatan gunung api. Namun, di balik nama besar itu terdapat sebuah fakta penting, Anak Krakatau bukanlah Krakatau yang sama dengan gunung yang meledak pada 1883. Ia adalah "anak" yang lahir dari kehancuran induknya.

‎Letusan Krakatau pada 1883 bukan sekadar bencana lokal. Rangkaian letusan gunung api itu berlangsung antara Mei dan Agustus 1883, sebelum mencapai puncaknya pada akhir Agustus. Ledakannya begitu besar sehingga suara salah satu ledakan terdengar hingga Mauritius, hampir 5.000 kilometer dari Krakatau.

‎Namun, suara ledakan bukanlah bagian paling mematikan dari bencana tersebut. Diperkirakan sekitar 35.000 orang meninggal dunia, dan sebagian besar korban tewas akibat tsunami yang dipicu oleh aktivitas vulkanik serta runtuhnya bagian tubuh gunung ke laut.

‎Dampaknya bahkan terasa jauh melampaui Indonesia. Material vulkanik mengambang terbawa arus laut hingga berbagai tempat di Samudra Hindia. Abu dan gas vulkanik yang terlontar tinggi ke atmosfer juga mengubah kondisi atmosfer bumi.

‎Bulan sempat terlihat kebiruan dari sejumlah tempat di dunia. Matahari terbenam tampak dengan warna yang tidak biasa. Partikel dan aerosol sulfat dari letusan mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai permukaan bumi sehingga suhu dekat permukaan turun sekitar 0,3 derajat Celsius selama beberapa tahun setelah letusan.

‎Untuk memahami potensi bahayanya, kita perlu melihat lokasi Krakatau. Gunung api ini berada di kawasan zona subduksi, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Lingkungan tektonik seperti ini menyediakan kondisi yang memungkinkan terbentuknya magma dengan kandungan gas tinggi. Gas yang terlarut dalam magma menjadi salah satu faktor penting yang dapat membuat letusan gunung api berlangsung eksplosif.

‎Para ilmuwan masih mendiskusikan secara rinci apa yang menjadi pemicu utama letusan 1883. Salah satu penjelasan ilmiah yang dikemukakan adalah naiknya magma baru yang panas dan kaya gas dari kedalaman bumi. ‎Magma tersebut kemudian bercampur dengan magma yang lebih kental dan sudah tersimpan di bawah Krakatau.

‎Bayangkan sebuah sistem yang sudah berada dalam kondisi tidak stabil, kemudian mendapatkan tambahan panas dan gas. Tekanan meningkat dan sistem magma dapat terdorong menuju kondisi yang jauh lebih eksplosif. Proses semacam ini dikenal sebagai magma recharge atau magma mixing.

‎Ada satu faktor yang membuat Krakatau sangat berbeda dari banyak gunung api lainnya yakni lokasinya di laut. Jika letusan besar terjadi di daratan, bahaya utamanya mungkin berupa hujan abu, material vulkanik, aliran piroklastik, dan gas beracun. Di Krakatau, situasinya berbeda.

‎Ketika bagian tubuh gunung runtuh ke laut, air laut ikut menjadi bagian dari sistem bencana. Perpindahan massa air secara tiba-tiba dapat menghasilkan tsunami. Itulah yang terjadi pada 1883.‎

Dengan kata lain, salah satu pelajaran terbesar dari Krakatau adalah bahwa bahaya gunung api tidak selalu berhenti di lereng gunung. Ketika gunung api berada di pulau atau laut, ancaman dapat berubah menjadi bencana pesisir dalam hitungan menit.

‎Setelah Krakatau hancur pada 1883, aktivitas vulkanik tidak benar-benar berhenti. Dari kawasan tersebut kemudian muncul gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Gunung ini telah mengalami erupsi berulang selama hampir satu abad.

‎Aktivitas Anak Krakatau sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi ahli gunung api. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana gunung ini tumbuh, berubah bentuk, dan berinteraksi dengan laut di sekitarnya.

‎Salah satu peristiwa paling penting terjadi pada 2018. Sebagian besar tubuh Anak Krakatau yang ketika itu memiliki ketinggian sekitar 300 meter runtuh. Peristiwa tersebut memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 400 orang di Indonesia. Tragedi itu menjadi pengingat bahwa bahkan tanpa letusan sebesar 1883, Anak Krakatau tetap mampu menghasilkan bencana mematikan.

‎Senior Curator of Geosciences di Museums Victoria Research Institute, Monash University, Heather Handley, mengungkapkan dalam sebuah tulisan di The Conversation bahwa, jawabannya tidaklah sederhana.

‎"Sulit untuk memastikan apakah Anak Krakatau di masa mendatang akan menyebabkan kehancuran serupa dengan peristiwa tahun 1883. Namun, kita tahu bahwa gunung berapi ini tetap sangat aktif. Hal ini dapat meningkatkan risiko karena letusan bisa menyebabkan ketidakstabilan struktur gunung, yang berpotensi memicu keruntuhan," jelas Handley.

‎"Di sisi lain, aktivitas ini juga dapat mengurangi risiko letusan yang lebih besar dalam jangka panjang. Letusan yang terjadi secara berkala ini dapat mengurangi penumpukan magma kental dalam jumlah besar di dalam tubuh gunung berapi," Ucapnya.

‎Menurut informasi yang dikutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kondisi gunung tersebut saat ini belum menunjukkan potensi keruntuhan dengan skala seperti yang dapat memicu tsunami besar. Namun, hal ini tentu bukan berarti risikonya menjadi nol.

‎Gunung api adalah sistem alam yang dinamis. Bentuk tubuh gunung, aktivitas magma, kondisi lereng, dan interaksinya dengan laut dapat berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, yang paling penting bukan meramal secara pasti kapan letusan besar akan terjadi, melainkan terus memantau perubahan yang dapat meningkatkan risiko.

‎Krakatau berada di tengah perairan yang menghubungkan wilayah padat penduduk di Sumatra dan Jawa. Ketika sebagian gunung runtuh pada 1883 dan kembali runtuh pada 2018, air laut berubah menjadi medium yang membawa energi bencana ke wilayah pesisir.

‎Itulah sebabnya pemantauan Anak Krakatau tidak bisa hanya berfokus pada tinggi kolom erupsi atau banyaknya abu. Perubahan bentuk gunung, kestabilan lereng, aktivitas magma, dan potensi gangguan terhadap laut juga harus diperhatikan.

‎Anak Krakatau mungkin tidak akan pernah menghasilkan letusan persis seperti Krakatau pada 1883. Dan sejauh informasi yang tersedia saat ini, tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa letusan sebesar itu sedang menuju ke arah kita.

‎Namun, sejarah 1883 dan tragedi 2018 memberikan pesan yang jauh lebih penting: potensi bencana tidak pernah benar-benar hilang dari kawasan ini. Krakatau telah menunjukkan bahwa gunung api yang berada di laut dapat menghasilkan rangkaian bahaya yang jauh lebih luas daripada sekadar lava dan abu. Oleh karena itu, setiap erupsi Anak Krakatau layak dipantau dengan serius bukan dengan kepanikan, tetapi dengan ilmu pengetahuan, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan.

‎Sebab pertanyaan terpenting bukanlah apakah Krakatau akan kembali seperti 1883. Pertanyaan yang lebih penting adalah jika suatu hari terjadi erupsi besar lagi, apakah kita sudah cukup siap ketika gelombang pertama pemicu tsunami itu datang?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....