Vape: Mitos "Aman" Berbahaya Berkedok Rendah Tar
- 05 Sep 2026 23:34 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon — Anggapan vape atau rokok elektrik adalah alternatif yang "aman" atau "lebih sehat" dibanding rokok konvensional ternyata hanyalah mitos belaka. Sebuah pernyataan yang jujur dan objektif berbunyi: "Vape memang lebih rendah tar dibanding rokok, tetapi bukan berarti 'lebih sehat'—itu hanya 'sedikit tidak seburuk', tetap saja buruk."
Banyak orang beralih ke vape dengan alasan ingin berhenti merokok, atau sekadar menganggap uap yang keluar itu "hanya uap air". Padahal, anggapan itu keliru besar. Di balik aroma buah yang menggoda, tersembunyi kandungan zat kimia yang tetap merusak organ tubuh, terutama paru-paru.
Meskipun tidak membakar tembakau, cairan vape atau liquid mengandung zat berbahaya yang terhirup langsung hingga ke bagian terdalam paru-paru, yaitu alveolus, Nikotin cair dosis tinggi pada Vape sering kali menghasilkan nikotin yang lebih pekat dan lebih cepat diserap tubuh. Beberapa sekali isap dari satu pod bisa mengandung nikotin setara dengan 1–2 bungkus rokok sekaligus.
Ada juga Propilen Glikol & Gliserin Nabati, bahan dasar cairan ini saat dipanaskan berubah menjadi formaldehida dan asetaldehida senyawa yang terbukti bersifat karsinogenik atau penyebab kanker. Kemudian ditambah zat perasa seperti aroma buah, permen, atau makanan yang menarik itu mengandung zat bernama Diacetyl. Zat ini diketahui menyebabkan penyakit paru-paru langka namun mematikan yang disebut Popcorn Lung atau Bronchiolitis Obliterans, dimana saluran napas menyempit dan rusak secara permanen. Logam berat pada Vape juga berbahaya, proses pemanasan oleh koil melepaskan partikel nikel, timah, dan kromium yang ikut terhirup dan mengendap di dalam paru-paru.
Selain kandungan kimia juga memilik bahaya yang lebih spesifik seperti, Cedera Paru Serius (EVALI & Popcorn Lung). Pada tahun 2019–2020, dunia digegerkan kasus EVALI, yaitu cedera paru terkait penggunaan vape yang menewaskan puluhan orang dan melukai ribuan lainnya. Gejalanya meliputi sesak napas parah, batuk terus-menerus, muntah, hingga penurunan kesadaran.
Kerusakan Otak pada para remaja, nikotin dalam vape sangat merusak perkembangan otak, terutama pada usia di bawah 25 tahun. Hal ini mengganggu daya ingat, kemampuan konsentrasi, dan kontrol diri. Studi menyebutkan risiko depresi dan kecemasan pada pengguna vape muda bisa dua kali lipat lebih tinggi.
Risiko ledakan dan luka bakar akibat baterai lithium-ion yang digunakan pada perangkat vape mudah panas berlebih dan bisa meledak sewaktu-waktu, baik saat dipakai maupun saat disimpan di saku celana. Banyak kasus menyebabkan luka bakar berat hingga kerusakan wajah dan gigi.
Gerbang menuju rokok konvensional Vape sering dianggap "titik awal" kebiasaan buruk. Penelitian menunjukkan remaja yang mulai menggunakan vape memiliki kemungkinan 3 kali lebih besar untuk akhirnya beralih ke rokok tembakau biasa dibandingkan mereka yang tidak pernah mencoba vape.
Vape bukanlah solusi berhenti merokok, dan uapnya bukan sekadar uap air yang tidak berbahaya. Ia tetap membawa puluhan zat racun langsung ke dalam paru-paru, merusak perkembangan otak, serta memicu ketergantungan nikotin yang mungkin lebih kuat daripada rokok biasa. Tidak ada "aman" di antara keduanya. Memilih vape hanya berarti memilih jenis racun yang berbeda, bukan memilih jalan yang lebih sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....