Menyoal Jam Biologis dan Waktu Sosial yang Membelenggu Perempuan

  • 04 Apr 2026 19:08 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Seorang perempuan kerap merasa dikejar-kejar waktu. Bukan cuma karena target hidup, tapi karena struktur sosial yang masih saja menempelkan standar-standar tertentu pada tubuh dan usianya.

Belakangan, unggahan Komnas Perempuan di Instagram cukup menyita perhatian. Dengan nada yang lugas namun menyentuh, mereka mengupas fenomena yang jarang dibahas secara santai: jeratan waktu sosial bagi perempuan.

Waktu itu tak netral, terutama untuk perempuan

Dalam unggahan pertama, Komnas Perempuan menulis bahwa waktu kerap dianggap sama untuk semua orang. Padahal, bagi perempuan, waktu terasa lebih berat. Ada tumpukan peran, reproduksi, urusan rumah tangga, hingga produktivitas di ranah publik yang harus dijalani bersamaan. Hasilnya? Tekanan waktu berlapis yang melelahkan.

Salah satu poin menarik adalah soal tubuh perempuan sebagai penanda waktu. Usia perempuan masih kerap dikaitkan dengan masa subur atau masa produktif biologis. Padahal, nilai hidup seseorang ya bukan cuma diukur dari rahimnya, kan?

Komnas Perempuan mengutip penelitian Martina Yopo Díaz (2021) soal biological clock. Istilah ini ternyata bukan sekadar istilah medis, tapi juga jadi alat kontrol sosial. Perempuan diatur oleh jadwal kapan harus nikah, kapan punya anak. Kalau meleset? Bisa kena stigma, bahkan tekanan psikologis.

Buat yang belum punya anak karena infertilitas, bebannya makin berat. Studi Lam dkk (2021) yang dirujuk Banul dkk (2025) menyebut bahwa perempuan tanpa anak dalam situasi ini bisa mengalami trauma, depresi, sampai dikucilkan.

Kemiskinan waktu: saat 24 jam tak pernah cukup

Istilah lain yang diangkat adalah time poverty atau kemiskinan waktu. Bukan miskin uang, tapi miskin waktu. Perempuan habiskan banyak jam buat kerja domestik dan urusan perawatan keluarga. Sementara laki-laki punya porsi lebih besar buat istirahat, belajar, atau ikut kegiatan sosial-ekonomi.

UN Women (2026) dalam laporannya bilang, ketimpangan pola waktu ini bikin perempuan punya ruang gerak yang jauh lebih sempit. Padahal, mereka juga butuh waktu buat diri sendiri.

Pandemi memperparah beban yang sudah berat

Komnas Perempuan juga menyoroti bagaimana pandemi COVID-19 bikin keadaan makin kacau. Beban domestik perempuan membengkak drastis. Sekolah anak di rumah, anggota keluarga sakit, pekerjaan rumah tangga numpuk. Akibatnya? Kelelahan fisik dan mental meningkat. Bahkan, kerentanan terhadap kekerasan dalam rumah tangga ikut naik.

Situasi paling parah dialami oleh perempuan kepala keluarga dan pekerja rumah tangga. Mereka harus membagi waktu antara mengurus rumah dan mencari nafkah. Dua-duanya nggak bisa ditinggal.

Korban kekerasan: waktunya dirampas, tapi masih dituntut kejar target sosial

Bagian yang paling menyayat hati mungkin adalah soal perempuan korban kekerasan. Komnas Perempuan menulis bahwa kekerasan bisa merampas waktu hidup seseorang. Pendidikan tertunda, karier terhenti, masa depan buyar.

Tapi masyarakat sering masih saja menuntut mereka untuk normal lagi, mengejar target-target sosial seperti menikah, punya anak, atau bekerja, seolah tak pernah terjadi luka besar dalam hidup mereka.

Waktu adalah hak, bukan sekadar sumber daya

Penutup unggahan Komnas Perempuan mengingatkan: waktu harus dikembalikan kepada perempuan dan anak perempuan. Sejak dini. Bukan sebagai komoditas atau sumber daya, tapi sebagai hak dasar.

Perempuan berhak menentukan ritme hidupnya sendiri. Tanpa tekanan. Tanpa stigma. Tanpa batasan dari norma sosial yang kadang tak masuk akal.

Pesan ini mungkin sederhana. Tapi butuh keberanian untuk benar-benar menjalaninya. Dan butuh kesadaran kolektif buat nggak ikut-ikutan mengejar-ngejar perempuan lain dengan jam sosial yang sempit.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....