Membaca Ulang Jejak Peradaban Manusia: Bukan Sekadar Teknologi

  • 11 Mei 2025 11:21 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon : Ketika berbicara tentang sejarah peradaban manusia, biasanya yang terlintas adalah pencapaian-pencapaian besar seperti Piramid di Mesir, Tembok Raksasa di Tiongkok, atau Revolusi Industri di Inggris, hingga kecanggihan Teknologi Digital di Amerika Serikat dan negara lainnya.

"Benarkah peradaban hanya soal teknologi, Jawabannya tentunya tidak sesederhana itu," tutur Pengamat budaya dan Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo kepada RRI, siang tadi

Waluyo mengatakan, perjalanan panjang umat manusia tidak hanya ditopang oleh mesin-mesin dan penemuan-penemuan canggih, melainkan juga oleh hal-hal yang kerap luput dari sorotan hubungan sosial, nilai budaya, sistem ekonomi, dan tentu saja, alam tempat kita berpijak.

Tak ada peradaban tanpa masyarakat. Cara manusia berinteraksi satu sama lain menentukan arah kemajuan sebuah bangsa. Harmoni sosial, misalnya, menjadi fondasi stabilitas dan kemakmuran.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa ketimpangan sosial bisa menjadi titik awal keruntuhan. Kerajaan-kerajaan besar bisa goyah bukan karena musuh dari luar, tapi karena rapuhnya tatanan sosial dari dalam. "Maka, membangun masyarakat yang inklusif dan partisipatif adalah kunci peradaban yang tahan banting," tegas Waluyo.

Dikataka, jika sosial adalah struktur, maka budaya adalah jiwa zaman. Lewat bahasa, seni, adat, kepercayaan, nilai hidup bersama, dan gaya hidup, manusia menemukan jati dirinya. Budaya menuntun cara manusia memandang dunia, berinteraksi, bahkan membangun imaji masa depan.

Tak heran jika budaya yang kuat kerap menjadi perekat di tengah perubahan zaman. Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tapi juga bekal untuk melangkah ke depan.

Sejak masa barter hingga ekonomi digital, kegiatan ekonomi selalu menjadi urat nadi kehidupan manusia. Tapi, tantangannya adalah bagaimana menjalankan ekonomi yang tak hanya tumbuh, tapi juga merata dan berkelanjutan.

Pertumbuhan ekonomi yang tak adil hanya akan menimbulkan kesenjangan dan potensi konflik. Maka kini, dunia mulai bergeser, bukan hanya soal besaran angka PDB, tapi bagaimana ekonomi bisa menyejahterakan semua pihak tanpa menggerus sumber daya alam.

Akan tetapi kata Waluyo, sejarah juga memperingatkan, peradaban yang tak menghargai alamnya, bisa runtuh karena ulahnya sendiri. Eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, dan krisis air adalah ancaman nyata.

"Kini, perhatian terhadap lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan pelestarian keanekaragaman hayati menjadi langkah konkret untuk memastikan bumi tetap layak huni bagi generasi berikutnya," tukas Waluyo.

Rekomendasi Berita