Kekayaan: Hasil Kerja Keras atau Keberuntungan?

  • 27 Apr 2025 14:08 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Di era modern, perdebatan tentang bagaimana kekayaan terbentuk semakin menarik perhatian. Apakah itu murni hasil kerja keras, ataukah faktor keberuntungan juga memainkan peran besar.

"Alih-alih sekadar akumulasi materi, masa depan ekonomi mungkin akan lebih menekankan akses universal, kontribusi sosial, dan nilai-nilai kolektif," tutur Pengamat Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo kepada RRI, Minggu (27/4/2025).

Waluyo mengatakan, sejumlah model dan teori menawarkan perspektif menarik, termasuk Ekonomi Pasca-Kelangkaan, Kepemilikan Bersama, Ekonomi Berbasis Sumber Daya, hingga inovasi dalam tata kelola global.

Ia juga menjelaskan, berkat revolusi teknologi terutama dalam otomatisasi dan kecerdasan buatan produksi barang dan jasa semakin murah, bahkan mendekati nol. Dengan sumber daya yang melimpah, konsep uang dan barter bisa kehilangan relevansinya.

Sementara itu, aset dasar seperti pangan, air, pendidikan, kesehatan, dan energi akan menjadi hak universal yang diberikan tanpa biaya. Infrastruktur publik akan dikelola oleh AI, dan sumber daya strategis akan dimiliki bersama, bukan oleh segelintir individu atau korporasi.

Distribusi berbasis kebutuhan akan menjadi kunci, dengan teknologi seperti blockchain dan AI memfasilitasi alokasi real-time berdasarkan permintaan dan ketersediaan.

Konsep Ekonomi Berbasis Sumber Daya, seperti yang diusung oleh Proyek Venus, juga disebutkan Waluyo sebagai pendekatan yang berfokus pada pengelolaan sumber daya secara ilmiah dan berkelanjutan. Prinsip zero waste akan diterapkan, memastikan semua produk didaur ulang atau diperbarui untuk menghilangkan limbah dan polusi.

Dalam pandangan Waluyo, saat tekanan finansial berkurang, manusia akan lebih fokus pada pengembangan diri dan kontribusi sosial. Ekonomi akan digerakkan oleh kreativitas, seni, sains, dan teknologi, dengan sistem reputasi dan kontribusi sebagai insentif utama.

Waluyo menyoroti perubahan tata kelola global, di mana keputusan politik dan ekonomi berpotensi bergeser dari tangan elit ke sistem yang lebih demokratis, melibatkan panel ilmuwan, filsuf, dan AI. Platform digital akan memberikan masyarakat ruang partisipasi lebih luas dalam pengambilan keputusan.

Budaya masa depan pun akan berbasis pada nilai kolektivitas. Pendidikan akan berfokus pada empati, keberlanjutan, dan tanggung jawab global. Ekonomi berbasis hadiah (gift economy) bisa berkembang, memungkinkan individu berbagi keahlian dan sumber daya tanpa mengharapkan imbalan materi.

Namun, Waluyo mengingatkan bahwa tantangan tetap ada. Jika uang bukan lagi motivator utama, bagaimana mengelola konflik ideologi, status sosial, atau akses terhadap sumber daya langka seperti lahan premium?

"Sistem AI juga harus transparan dan bebas dari bias untuk mencegah ketimpangan baru," ungkap Waluyo.

Ia menegaskan bahwa, konsep ekonomi ini bukanlah kapitalisme, sosialisme, atau komunisme. Melainkan, sebuah ekosistem baru yang menggabungkan teknologi canggih, keberlanjutan ekologis, dan nilai-nilai humanis.

"Masa depan kesejahteraan akan ditentukan oleh akses universal dan kebebasan untuk berkontribusi bagi kemajuan bersama," tutup Waluyo.

Rekomendasi Berita