Sejarah Kartu Kuning dan Merah dalam Sepak Bola

  • 09 Jul 2026 19:52 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Kartu kuning dan kartu merah yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pertandingan sepak bola ternyata memiliki sejarah yang menarik. Kedua kartu tersebut lahir dari kebutuhan untuk menciptakan komunikasi yang lebih jelas antara wasit dan pemain, terutama dalam pertandingan yang melibatkan banyak negara dengan bahasa yang berbeda.

Dikutip dari FIFA.Com Gagasan penggunaan kartu berawal dari insiden pada Piala Dunia 1966 di Inggris. Saat itu terjadi kebingungan ketika kapten Argentina, Antonio Rattín, tidak memahami keputusan wasit yang memintanya meninggalkan lapangan. Perbedaan bahasa membuat situasi di lapangan menjadi sulit dikendalikan.

Pengalaman tersebut menginspirasi mantan wasit asal Inggris, Ken Aston, untuk mencari cara yang lebih sederhana agar keputusan wasit dapat dipahami oleh semua pemain. Saat sedang berkendara, ia melihat lampu lalu lintas dan mendapatkan ide yang kemudian mengubah sejarah sepak bola.

Ken Aston mengusulkan penggunaan warna kuning sebagai tanda peringatan, seperti lampu kuning yang berarti berhati-hati. Sementara warna merah digunakan sebagai tanda bahwa pemain harus meninggalkan lapangan, sebagaimana lampu merah yang berarti berhenti.

Usulan tersebut diterima oleh FIFA dan mulai diterapkan secara resmi pada Piala Dunia 1970 di Meksiko. Sejak saat itu, kartu kuning dan kartu merah menjadi standar dalam setiap pertandingan sepak bola internasional maupun kompetisi domestik di berbagai negara.

Dalam penerapannya, kartu kuning diberikan kepada pemain yang melakukan pelanggaran tertentu atau menunjukkan perilaku tidak sportif. Sementara kartu merah diberikan kepada pemain yang melakukan pelanggaran berat atau menerima dua kartu kuning dalam satu pertandingan, sehingga harus keluar dari lapangan dan tidak dapat digantikan.

Hingga kini, sistem kartu kuning dan kartu merah tetap digunakan sebagai simbol disiplin dan sportivitas dalam sepak bola. Berawal dari inspirasi sederhana yang diambil dari lampu lalu lintas, kedua kartu tersebut telah menjadi bahasa universal yang dipahami oleh pemain, wasit, maupun penggemar sepak bola di seluruh dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....