Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Maluku Tumbuh hingga 5,85% pada 2026

  • 01 Okt 2026 12:28 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan perekonomian Provinsi Maluku terus mencatatkan tren positif sepanjang tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi daerah ini diperkirakan mencapai kisaran 5,45% hingga 5,85% (yoy), ditopang kuat oleh percepatan sektor perikanan, penguatan UMKM, belanja pemerintah, serta akselerasi sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN).

Proyeksi optimis ini disampaikan oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Rakhmat Pratama, dalam ajang Sarasehan Wartawan & Diseminasi Kebijakan BI di Swiss-Belhotel Ambon, Selasa 29 September 2026.

Menurut Rakhmat, indikator makroekonomi Maluku saat ini menunjukkan momentum pemulihan yang solid untuk menjaga ritme pertumbuhan hingga akhir tahun.

"Berdasarkan hasil proyeksi kami, ekonomi Maluku pada 2026 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,45 persen hingga 5,85 persen," ujar Rakhmat.

Ia menjelaskan, aktivitas ekonomi daerah masih mendapat dorongan signifikan dari aliran dana dan transfer pemerintah pusat. Meski terjadi beberapa penyesuaian belanja daerah, stimulus fiskal pusat yang masuk ke Maluku tergolong besar dan efektif menjaga daya beli serta perputaran roda ekonomi lokal.

Di samping faktor fiskal, sektor Perikanan dan Pertanian menjadi backbone utama pertumbuhan. Pemulihan harga komoditas perikanan di pasar global—khususnya cakalang—berhasil mendorong kinerja ekspor daerah.

"Momentum positif ini menjadikan lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Maluku," tambahnya.

Indikator pendukung lainnya juga mencatatkan sinyal positif, seperti peningkatan penyaluran kredit pertanian, kenaikan volume produksi perikanan, serta tren membaiknya sektor perdagangan dan konstruksi.

Meski indikator utama menguat, BI memberikan catatan khusus pada kinerja sektor pariwisata dan perhotelan yang masih menghadapi tekanan. Penurunan jumlah wisatawan dan penurunan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) ditengarai sebagai dampak dari tingginya harga minyak dunia.

"Fluktuasi harga minyak dunia berpotensi menaikkan biaya transportasi, yang pada akhirnya memicu kenaikan ongkos perjalanan masyarakat dan menahan laju pemulihan pariwisata," terang Rakhmat.

Kendati demikian, BI optimistis sinergi antara proyek strategis nasional, percepatan penyaluran kredit usaha, dan stabilitas harga komoditas utama akan tetap menjadi pengungkit utama perekonomian Maluku sepanjang tahun 2026.

Aliran dana pemerintah pusat dan realisasi Proyek Strategis Nasional (PSN) juga terus menggerakkan aktivitas investasi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....