Akademisi Unpatti: Sastra, Ruang Merawat Ingatan dan Trauma Sejarah

  • 19 Sep 2026 10:24 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Sastra tidak hanya menjadi ruang untuk menikmati keindahan bahasa dan cerita, tetapi juga dapat menjadi medium untuk merawat ingatan, menghadirkan pengalaman korban, serta merefleksikan kembali berbagai peristiwa sejarah. Hal tersebut disampaikan akademisi Unpatti Dr. Falentino Eryk Latupapua, S.Pd., M.A., dalam diskusi dan bedah buku Semesta Raya Sastra 1.0: “Sastra dan Budaya Timur Indonesia”, Sabtu, 19 September 2026, di Auditorium George de Fretes RRI Ambon.

Dr. Falentino Eryk Latupapua, S.Pd., M.A., dalam diskusi dan bedah buku Semesta Raya Sastra 1.0: “Sastra dan Budaya Timur Indonesia”. (Foto : RRI)

Dalam pemaparannya, Falentino membahas novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori sebagai salah satu contoh bagaimana karya sastra dapat menghadirkan sisi personal dari sebuah peristiwa yang tidak selalu ditemukan dalam catatan sejarah.

Menurutnya, melalui tokoh-tokoh dalam novel, pembaca tidak hanya melihat peristiwa sebagai fakta, tetapi juga dapat merasakan pengalaman, kehilangan, ketakutan, serta trauma yang dialami korban dan keluarga mereka.

Ia menekankan, sastra memiliki peran penting dalam menjaga ingatan ketika orang-orang yang mengalami sebuah peristiwa telah tiada atau tidak lagi dapat menceritakan pengalamannya secara langsung.

Kita bersastra bukan hanya untuk mencari kesempatan untuk tampil, tetapi bagaimana dengan aktivisme-aktivisme sederhana sampai yang kompleks yang kita lakukan. Itu memastikan bahwa ingatan-ingatan penting seperti ini bisa tetap hidup dan diwariskan melalui puisi kita, melalui cerita-cerita kita,” ujarnya dalam diskusi.

Falentino juga menyoroti bagaimana trauma dalam cerita tidak hanya dialami individu, tetapi dapat menjalar kepada keluarga dan lingkungan sosial. Dalam konteks tersebut, karya sastra dinilai mampu menjadi ruang untuk menyuarakan pengalaman mereka yang selama ini tidak banyak muncul dalam narasi sejarah yang dominan.

Ia kemudian mengajak peserta, khususnya generasi muda yang lahir pada era 2000-an, untuk membaca karya sastra secara kritis dan menghubungkannya dengan konteks sosial maupun sejarah Indonesia.

Suasana Bedah Buku Di Auditorium George de Fretes. (Foto: RRI)

Diskusi tersebut turut menghadirkan Embong Salampessy, pekerja perdamaian sekaligus jurnalis senior, dan Weslly Johannes, penyair, serta diikuti para pegiat literasi. Adapula Penampilan Spesial: Monolog oleh Desy Pelu dan Musikalisasi Puisi oleh SMA Negeri 1 Ambon. Acara ini diselenggarakan oleh komunitas Timur Menulis bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 menjadi ruang perjumpaan bagi para pegiat sastra dan budaya untuk membicarakan bagaimana karya sastra dapat terus hidup, sekaligus menjadi media untuk merawat ingatan, pengalaman manusia, dan nilai-nilai kemanusiaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....