Transformasi Layanan Kesehatan Jemput Bola "Sapa-Bina” andalan Pemasyarakatan
- 13 Sep 2026 06:55 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID,Ambon- Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku terus mendorong transformasi pelayanan kesehatan bagi warga binaan melalui inovasi “Sapa-Bina” (Sinergi Aksi Pelayanan Aktif Bagi Warga Binaan). Inovasi tersebut menjadi topik utama dalam kegiatan Community of Practice bertajuk “Layanan Kesehatan Terintegrasi Berbasis Jemput Bola Melalui Inovasi ‘Sapa-Bina’”, yang dilaksanakan secara daring diikuti seluruh pegawai di lingkungan Pemasyarakatan Maluku pada Jumat 11 September 2026.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, RickyDwi Biantoro, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa inovasi pelayanan harus mampu menjawab persoalan nyata di lapangan sekaligus memperkuat pemenuhanhak warga binaan.
“Sapa-Bina bukan sekadar inovasi pelayanan kesehatan, tetapi sebuahperubahan paradigma. Kita harus memastikan bahwa pelayanan hadir secara aktif, terukur, dan menyentuh seluruh warga binaan, terutama mereka yang mungkin tidak secara langsung menyampaikan keluhan kesehatannya,” kata Ricky.
Gagasan Sapa-Bina lahir dari persoalan nyata yang dihadapi lingkungan pemasyarakatan, khususnya kondisi blok hunian dengan tingkat hunian yang melebihi kapasitas ideal, Kondisi tersebut berdampak pada kualitas sanitasi dan sirkulasi udara sertameningkatkan risiko penyebaran penyakit menular.
Di sisi lain, keterbatasan rasio petugas pengamanan menjadi tantangan ketika warga binaan harus dikawal untuk mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan luar.
Melalui Sapa-Bina, pola pelayanan kesehatandiubah dari pendekatan reaktif menjadi proaktif. Pelayanan tidak lagi semata-mata menungguwarga binaan datang atau menyampaikan keluhan, tetapi petugas secara aktif mendatangi blok hunian untuk melakukan pemeriksaan, skrining, edukasi, hingga penanganan awal.
Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya, selaku speaker dalam kegiatan tersebut menjelaskanbahwa pendekatan jemput bola merupakan langkah strategis untuk mendeteksi persoalan kesehatan sejak dini.
“Kami ingin mengubah pola pelayanan dari sekadar menunggu keluhan menjadi pelayanan yang aktif mendatangi warga binaan. Dengan skrining rutin, kami dapat mengetahui kondisi kesehatan lebih awal dan mengambil langkah pencegahan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar,” ujar Tersih.
Implementasi Sapa-Bina bertumpu pada tiga pilar utama, yakni sinergi lintas sektor, aksi jemputbola, dan keputusan berbasis data. Sinergi lintas sektor diwujudkan melalui kemitraan formaldengan fasilitas kesehatan setempat, terutama Puskesmas, untuk mengatasi keterbatasan tenaga medis.
Sementara itu, aksi jemput bola dilakukan melalui pemeriksaan dan edukasi kesehatan secara terjadwal di blok hunian. Seluruh hasil pemeriksaan kemudian dicatat dan didigitalisasi sehingga dapat digunakan untuk memetakantren kesehatan warga binaan serta menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih terukur.
Pada fase eksekusinya, Sapa-Bina diawali dengan penyusunan Standar Operasional Prosedur(SOP) pelayanan kesehatan proaktif serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS)dengan fasilitas kesehatan eksternal. Tim gabungan selanjutnya melaksanakan skrining medis danedukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara rutin, disertai pendistribusian vitamin serta penanganan medis awal secara komprehensif dan nondiskriminatif. Langkah tersebut diperkuat dengan digitalisasi hasil pemeriksaan melalui dashboard kesehatan khusus warga binaan.
Selain mengandalkan tenaga medis, inovasi ini juga menempatkan warga binaan sebagai bagian dari solusi melalui program Kader Kesehatan. Perwakilan warga binaan di setiap kamar dilatih untuk mengenali gejala awal penyakit dan memahami prosedur pelaporan cepat kepada regu pengamanan. Pemberdayaan tersebut menjadi bentuk ekstensi pengawasan kesehatan selama 24 jam, mengingat petugas medis tidak mungkin berada di setiap blok hunian sepanjang waktu. Dengan demikian, potensi blind spot kesehatan, termasuk pada malam hari, dapat diminimalkan.
Dari sisi kolaborasi, kemitraan dengan Puskesmas menjadi instrumen penting untuk mengelola keterbatasan sumber daya manusia, anggaran, dan logistik kesehatan.
Melalui kerja sama tersebut, pemasyarakatan dapat memperoleh asistensi tenaga dokter maupun perawat, dukungan kebutuhan kesehatan dasar seperti vitamin dan obat esensial, serta memastikan pelayanan di dalam Lapas tetap mengacu pada standar medis yang berlaku. Skrining juga diarahkan untuk mendeteksi dini penyakit menular seperti ISPA dan penyakit kulit, sekaligus memantau penyakit kronis seperti hipertensi dan gula darah.
Data yang terkumpul kemudian ditampilkan dalam Dashboard sederhana sebagai instrumen evaluasi dan pemantauan tren kesehatan setiap blok. Penerapan Sapa-Bina diharapkan memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya terhadap kesehatan warga binaan tetapi juga terhadap keamanan dan ketertiban pemasyarakatan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan berbagi pengalamansebagai ruang untuk memperkuat praktik baik serta mengembangkan inovasi pelayanan pemasyarakatandi lingkungan Kanwil Ditjenpas Maluku.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....