Dibalik Jeruji, Warga Binaan Lapas Ambon Mendapat Pendidikan yang Layak

  • 07 Sep 2026 20:47 WIB
  •  Ambon

RRI.CO,ID, Ambon - Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon kembali mendapatkan hak akses pendidikan melalui kerja sama dengan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Ambon. Program pembelajaran non formal yang diberikan kali ini berfokus pada mata pelajaran Pendidikan Agama serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), Senin 7 September 2026.

Proses kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan suasana yang tertib, interaktif, dan penuh antusiasme dari para warga binaan. Pembelajaran non formal ini dibagi menjadi dua sesi materi utama, yaitu teori keagamaan di dalam kelas dan praktik lapangan untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).

Para pengajar dari SKB Kota Ambon membawakan materi dengan metode yang komunikatif, sehingga warga binaan dapat dengan mudah memahami ajaran agama yang disampaikan serta aktif berpartisipasi dalam sesi olahraga yang menyehatkan fisik dan mental mereka.

Suasana kebersamaan dan semangat belajar yang tinggi terlihat jelas di antara para peserta didik sepanjang kegiatan berlangsung.

Kegiatan belajar mengajar ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah pembinaan kepribadian dan kemandirian, tetapi juga sebagai bentuk nyata dukungan terhadap salah satu program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yakni penyelenggaraan pendidikan kesetaraan bagi para narapidana.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik) Lapas Ambon, Mekky Patty, menjelaskan bahwa kehadiran program pendidikan non formal ini merupakan langkah strategis dalam membekali warga binaan agar memiliki kompetensi setara dengan masyarakat di luar.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang secara terstruktur untuk memastikan hak-hak dasar warga binaan tetap terpenuhi selama menjalani masa pidana.

"Pendidikan adalah hak setiap warga negara, termasuk mereka yang sedang menjalani pembinaan di dalam lapas. Kami ingin memastikan bahwa waktu yang mereka habiskan di sini diisi dengan hal-hal produktif yang dapat mengubah pola pikir dan mental mereka ke arah yang lebih baik," ujar Mekky Patty.

Proses pembelajaran di dalam kelas berlangsung interaktif, di mana para pengajar dari SKB Kota Ambon mendampingi warga binaan secara intensif.

Salah satu pengajar, Ansar Maksar, mengungkapkan bahwa dirinya bersama tim pengajar sangat mengapresiasi antusiasme tinggi yang ditunjukkan oleh warga binaan selama sesi pelajaran Agama dan PJOK berlangsung.

Menurutnya, semangat belajar para peserta didik di dalam lapas tidak kalah dari siswa di sekolah formal pada umumnya.

"Meskipun belajar di lingkungan lapas, semangat para warga binaan patut diacungi jempol. Mereka sangat aktif dan kooperatif, baik saat menerima materi teori keagamaan maupun saat kami melakukan praktik materi PJOK di lapangan," tutur Ansar Maksar.

Antusiasme

tersebut turut dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satu warga binaan yang berinisial AJ mengaku sangat bersyukur dan terbantu dengan adanya program pendidikan nonformal ini.

Ia menceritakan bahwa kesempatan belajar ini memberikan angin segar dan harapan baru baginya untuk menatap masa depan yang lebih cerah setelah bebas nanti.

"Kami sangat senang dan berterima kasih kepada pihak Lapas Ambon dan SKB Kota Ambon yang sudah memfasilitasi kami belajar agama dan olahraga. Pelajaran ini membuat kami merasa masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan berguna bagi masyarakat kelak," ucap AJ dengan penuh semangat.

Sementara itu, Kepala Lapas (Kalapas) Ambon, Sumarworo Hendra Budiman, menegaskan komitmen jajarannya untuk terus memperkuat sinergi dengan berbagai instansi terkait demi menyukseskan program pembinaan berbasis pendidikan.

Ditegaskan bahwa Lapas Ambon siap mendukung penuh seluruh kebijakan strategis dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mewujudkan pemasyarakatan yang berdampak nyata melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia warga binaan.

"Kami berkomitmen untuk terus membuka akses seluas-luasnya bagi warga binaan untuk mendapatkan hak pendidikan mereka.

Program kesetaraan ini adalah pilar penting agar para warga binaan memiliki bekal ijazah dan moral yang kuat ketika mereka kembali berintegrasi ke tengah masyarakat,"jelas Hendra Budiman.

Program pendidikan non formal ini diharapkan dapat terus berjalan secara berkesinambungan di Lapas Ambon, sehingga para warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, melainkan bertransformasi menjadi pribadi yang cerdas, sehat secara jasmani dan rohani, serta siap mandiri saat kembali ke pangkuan keluarga dan masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....