Spirit Damai Menggema dari Riuhnya Tabuhan Hadrat Negeri Hitu

  • 06 Sep 2026 00:11 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon: Malam itu, Sabtu, 5 September 2026. Di beranda rumah Raja Hitu Lama, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku, udara terasa berbeda. Gemuruh suara tifa rebana yang ditepuk secara berirama bersahut-sahutan dengan lantunan salawat yang membumbung ke udara.

Di tanah yang sejak berabad-abad lalu menjadi jantung penyebaran Islam di Maluku ini, denyut dakwah tidak hanya terdengar dari mimbar-mimbar masjid, tetapi juga mengalir deras melalui jemari anak-anak muda yang menari dan memukul rabana.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1 448 H/2026 tak sekadar diisi dengan doa dan ceramah formal. Negeri Hitu memilih menyemarakkannya lewat Festival Hadrat, sebuah syair seni yang tak hanya memanjakan telinga, tetapi juga menyentuh relung hati paling dalam.

Bahkan, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa yang adalah seorang Nasrani tulen, nampak ikut larut dalam alunan seni budaya Islam yang satu ini. Tangannya ditepuk, kepalanya pun ikut bergoyang mengikuti lantunan irama rebana yang ditabuh para peserta festival.

Iya, malam itu, Gubernur Hendrik hadir ke Negeri Hitu untuk membuka secara langsung Festival Hadrat. Dalam sambutannya, Hendrik mengatakan lewat irama hadrat, ada pesan kebaikan yang diselipkan dengan lembut.

Baginya, seni tradisi ini mengajarkan masyarakat untuk memperhalus akhlak, memperkuat iman, dan merawat ikatan sosial agar tetap hangat.

Dia bilang, di bumi Maluku yang kaya akan keberagaman, suara rebana ini seolah menjadi pengingat tentang warisan luhur yang telah lama ada. Persaudaraan pela gandong, semangat gotong royong, dan kedamaian dalam perbedaan.

"Saya berharap melalui kegiatan ini, kita terus menanamkan pesan bahwa agama mengajarkan kedamaian, seni menghadirkan keindahan dan persaudaraan menghadirkan kekuatan," kata Hendrik

Hendrik mengaku melihat festival ini memiliki tiga makna penting, pertama sebagai upaya membangkitkan semangat generasi muda. Mereka yang hari ini tampil dengan pukulan rebana dan lantunan salawat adalah bukti bahwa tradisi islam nusantara hidup dan terus diwariskan.

"Melalui festival ini kita tanamkan kecintaan kepada nabi, kecintaan terhadap tradisi dan kebanggaan menjadi anak Maluku beriman dan berbudaya," ucapnya

Kedua, sebagai upaya memelihara tradisi. Hadrat bukan sekadar seni, hadrat adalah media dakwah, media silaturahmi dan identitas kita sebagai masyarakat Maluku yang relegius. Dengan menjaga irama syair dalam hadrat, kita sesungguhnya sedang menjaga jati diri kita.

Ketiga, menjadikan festival hadrat menjadi wisata religi. "Saya yakin ini dapat menjadi daya tarik. Tamu dari luar Maluku akan datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga untuk merasakan suasana spiritual di Jasirah Leihitu. Dari sini ekonomi umat, UMKM, kuliner dan kerajinan lokal bisa ikut berperan. Insya Allah Hitu akan menjadi salah satu negeri wisata religius unggulan di Maluku," kata Hendrik

Hendrik berpesan, tunjukkan penampilan yang terbaik. Jangan hanya mengejar kemenangan, tetapi jadikan festival ini sebagai momentum perluas silaturahim dan memperkuat persaudaraan.

Raja Negeri Hitu Lama, Salhana Pelu menyampaikan ucapan terima kasih kepada Gubernur Maluku dan seluruh warga Hitu baik yang ada di negeri maupun perantauan yang telah membantu untuk mensukseskan festival hadrat negeri Hitu 2026.

"Perayaan maulid akbar di Hitu sudah dibuat beberapa kali dan antusias masyarakat sangat tinggi bahkan mencapai 3000 orang lebih. Tahun ini kita meriahkan dengan menggelar festival hadrat dan Insya Allah akan digelar rutin tiap tahun. Terima kasih kepada pak Gubernur Maluku dan seluruh masyarakat Hitu yang telah membantu mensukseskan festival ini," kata Salhana Pelu

Raja Salhana ikut mengingatkan para juri yang didatangkan dari Kota Ambon untuk jeli dalam menilai. Peserta pun diminta untuk percaya bahwa keputusan juri adalah yang terbaik. "Setiap lomba pasti ada kalah dan menang. Paling utama adalah kita rawat silaturahim kita sebagai orang Maluku yang berbudaya," kata Salhana menutup obrolannya.

Sekadar tahu, Festival Hadrat Negeri Hitu diikuti oleh sebanyak 15 tim, baik dari Leihitu, Salahutu maupun kota Ambob. Turut hadir dalam kegiatan ini diantaranya Assisten II Setda Pemprov Maluku, Kasrul Selang, Anggota DPRD Provinsi Maluku, Rovik Akbar Afifudin, para raja se-Pulau Ambon dan ribuan warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....