Warga Binaan Lapas Geser Dilatih Olah Pupuk Organik dan Pembibitan

  • 22 Agt 2026 13:01 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID,Ambon- Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser antusias mengikuti kegiatan pembinaan kemandirian di bidang pertanian. Kegiatan ini dimentori langsung oleh jajaran Subseksi Pembinaan yang bekerja sama dengan peserta MagangHub Lapas Geser, Jumat 21 Agustus 2026.

Program ini digelar untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menciptakan ruang belajar inklusif demi meningkatkan produktivitas dan keterampilan warga binaan.

Dalam pelatihan ini, warga binaan diajari mulai dari proses penyemaian bibit sayuran hijau jenis sawi dan cabai. Tidak hanya pembibitan, mereka juga dibekali keterampilan mengolah tanah menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan. Pupuk tersebut sebelumnya telah melalui proses fermentasi menggunakan campuran larutan EM4, molase gula merah, dan sekam padi bakar yang efektif untuk menggemburkan serta mengoptimalkan kesuburan media tanam.

Kasubsi Pembinaan, Junaidi Laisouw, yang mengawal langsung jalannya kegiatan menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari transfer ilmu yang sistematis.

“Kami mendampingi mereka mulai dari tahap penyiapan media tanam organik, pembibitan, hingga pengolahan pupuk alami. Respons warga binaan sangat positif karena mereka dapat mempraktikkan ilmu tersebut secara langsung,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Staf Pembinaan, Alfin Iksan Ramadhan, menyampaikan bahwa fokus utama dari kegiatan ini adalah investasi masa depan agar para warga binaan menjadi individu yang lebih terampil dan mandiri.

“Kami memanfaatkan area lahan kosong di dalam Lapas menjadi lahan produktif untuk komoditas hortikultura harian. Target utamanya adalah agar warga binaan dapat menyerap ilmu pertanian organik ini sebagai modal keterampilan hidup yang bernilai ekonomis. Jadi, saat bebas nanti, mereka memiliki keahlian untuk mandiri atau bahkan membuka usaha pertanian sendiri. Oleh karena itu, program ini dinilai sangat menyentuh kebutuhan dasar warga binaan untuk kembali ke masyarakat,” ungkap Alfin.

Keterlibatan aktif para mahasiswa magang juga memberi dampak nyata dalam proses pembimbingan ini. Salah satu peserta MagangHub Lapas Geser, Mayada, mengungkapkan kebanggaannya dapat berbagi pengetahuan dan berinteraksi langsung dengan para warga binaan di lapangan. Menurutnya, program ini menjadi jembatan yang efektif untuk menyalurkan ilmu akademis ke dalam aksi nyata yang bermanfaat bagi warga binaan.

“Pengalaman mendampingi warga binaan secara langsung di lapangan memberikan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Semangat dan antusiasme mereka untuk belajar sangat tinggi, terutama saat diajarkan cara pengolahan pupuk fermentasi dan teknik penyemaian bibit. Bagi kami para peserta magang, ini bukan sekadar program kerja, tetapi juga ruang untuk saling berbagi ilmu, membangun empati, serta memberikan dorongan positif agar mereka lebih siap dan percaya diri menghadapi masa depan setelah bebas,” ungkap Mayada.

Manfaat besar program ini dirasakan langsung oleh warga binaan. alah seorang di antaranya, AR, mengaku sangat bersyukur dan antusias bisa mendapatkan ilmu pelatihan bertani organik yang belum pernah ia peroleh di luar Lapas.

Ia pun optimis dapat menerapkannya setelah bebas nanti.

“Dulu saya tidak tahu cara membuat pupuk fermentasi yang bagus. Di sini, selain bisa mengisi waktu dengan kegiatan positif, saya juga diajarkan mulai dari awal tahapan. Hubungan kami dengan petugas serta peserta pemagangan juga sangat akrab karena sering bekerja bersama di lapangan. Keterampilan ini akan saya gunakan sebagai bekal untuk berkarier di sektor pertanian setelah bebas nanti,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Kepala Lapas Geser, Nober Hasanda, memberikan apresiasi langsung terhadap inisiasi staf pembinaan dan peserta magang dalam program pembimbingan warga binaan untuk mendukung ketahanan pangan. Beliau menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah konkret jajarannya dalam menyukseskan program ketahanan pangan nasional dari balik dinding pemasyarakatan.

“Melalui konsep pertanian berkelanjutan, kami mendorong terciptanya ketahanan pangan mandiri di lingkup Lapas Geser. Pemanfaatan sumber daya lokal secara efisien membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukanlah halangan untuk menghasilkan produk pertanian yang subur, sehat, dan berproduktivitas tinggi. Kami ingin masyarakat tahu bahwa setelah bebas nanti, para warga binaan telah bertransformasi menjadi pribadi yang siap berkontribusi positif dalam pembangunan daerah,” ungkap Nober.

Melalui sinergi pembinaan yang humanis dan produktif ini, Lapas Geser kembali membuktikan bahwa proses pemasyarakatan yang berkolborasi dengan lulusan universitas mampu mencetak warga binaan yang mandiri, kreatif, dan peduli lingkungan. Program ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan jeruji besi tetap mampu melahirkan inovasi yang membawa manfaat luas saat warga binaan kembali ke tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....