Pusdal LH Sulawesi-Maluku Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Sampah di Maluku

  • 21 Agt 2026 16:22 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku melalui Bidang Wilayah III terus memperkuat kolaborasi pengelolaan lingkungan hidup di Maluku. Upaya tersebut dilakukan melalui komunikasi dan penyusunan agenda bersama Kawan Alam Indonesia serta Wutmaili Romuti, S.Pd., S.T., M.T., peraih Kalpataru 2026 yang akrab disapa Pak Uce.

Pertemuan tersebut membahas arah kerja sama dan penyusunan program lingkungan untuk 2027, dengan penekanan pada pembinaan, edukasi, peningkatan kapasitas masyarakat, pengelolaan sampah, keterlibatan dunia usaha, serta kolaborasi lintas sektor.

Kepala Bidang Wilayah III Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Suwardi, S.T.P., M.Si., mengatakan persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri.

“Pengelolaan lingkungan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah mempunyai kewenangan dan tanggung jawab, tetapi masyarakat, dunia usaha, akademisi dan komunitas juga memiliki peran yang sangat penting. Karena itu kolaborasi harus kita bangun,” ujar Suwardi.

Bidang Wilayah III Pusdal LH memiliki wilayah kerja Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Dalam menjalankan tugasnya, Pusdal LH melakukan pembinaan, koordinasi dan pengendalian lingkungan hidup bersama pemerintah daerah maupun pelaku usaha.

Menurut Suwardi, komunitas lingkungan dapat menjadi mitra strategis karena memiliki kedekatan dengan masyarakat.

“Kita membutuhkan mitra di lapangan. Komunitas memiliki kedekatan dengan masyarakat dan bisa menjadi penggerak edukasi. Karena itu kolaborasi dengan Kawan Alam Indonesia dan berbagai komunitas lainnya perlu terus diperkuat,” jelasnya.

Salah satu perhatian utama dalam pembahasan adalah pengelolaan sampah sejak dari sumber. Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pengurangan sampah oleh produsen sebagaimana diatur dalam Permen LHK Nomor P.75/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Pusdal LH mendorong agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada pengumpulan dan pengangkutan, tetapi dimulai dari upaya pengurangan, pemilahan dan pengelolaan di sumber.

“Kita tidak hanya ingin melihat kegiatan bersih-bersih. Yang lebih penting adalah bagaimana sampah bisa dikurangi dari sumbernya, bagaimana masyarakat memahami pemilahan, bagaimana dunia usaha meningkatkan pengelolaan limbah dan sampahnya, serta bagaimana semua itu dapat berjalan secara berkelanjutan,” kata Suwardi.

Dalam pertemuan tersebut, dunia usaha juga ditempatkan sebagai bagian dari solusi. Pusdal LH Bidang Wilayah III memiliki pengalaman melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap pelaku usaha di Maluku dan Maluku Utara, termasuk penguatan pengelolaan air, udara, limbah B3 dan sampah.

Suwardi mengatakan perusahaan yang telah menerapkan praktik baik perlu diberi ruang untuk menjadi contoh bagi pelaku usaha lainnya.

“Perusahaan tentu memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan. Tetapi di sisi lain, kita juga perlu memberikan ruang bagi perusahaan yang sudah melakukan praktik baik untuk menjadi contoh dan menginspirasi perusahaan lainnya,” ujarnya.

Gagasan tersebut turut berkembang menjadi rencana penyusunan penghargaan bagi perusahaan yang memiliki kinerja dan inovasi baik dalam pengelolaan sampah dan lingkungan.

Kawan Alam Indonesia menyatakan kesiapan mendukung agenda tersebut. Wanda Syahputra mengatakan pihaknya memiliki pengalaman dalam konservasi, edukasi lingkungan, pengelolaan sampah dan pengembangan jejaring komunitas.

“Kami melihat Pusdal LH memiliki posisi yang sangat strategis untuk menyatukan berbagai elemen dalam pengelolaan lingkungan di Maluku. Kawan Alam Indonesia siap menjadi bagian dari proses tersebut, khususnya dalam penguatan edukasi, komunitas, dokumentasi dan kampanye lingkungan,” ujar Wanda.

Sementara itu, Pak Uce menilai keterlibatan masyarakat harus menjadi bagian utama dalam setiap program lingkungan.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat menjadi bagian dari perubahan. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton. Mereka harus dilibatkan sejak perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal penyusunan agenda kerja sama 2027. Pemetaan program, identifikasi praktik baik, penguatan edukasi masyarakat, pelibatan dunia usaha dan pengembangan jejaring komunitas akan terus dimatangkan sebagai bagian dari persiapan menuju HPSN 2027.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....