Merokok Masa Remaja Ancaman Kesehatan Tubuh
- 05 Feb 2026 11:51 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Merokok di usia remaja menjadi ancaman serius bagi kesehatan tubuh dan masa depan reproduksi. Hal ini disampaikan DR. Magdalena Paunno, S.SiT., M.P.H., Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku.
Menurut Magdalena, banyak remaja mulai merokok karena pengaruh pergaulan, ingin terlihat keren, atau untuk mengatasi stres. Padahal, tubuh dan otak remaja masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga lebih rentan terhadap dampak zat berbahaya dalam rokok.
“Nikotin dapat menyebabkan kecanduan lebih cepat pada remaja serta mengganggu perkembangan otak, terutama pada fungsi konsentrasi dan daya ingat. Risiko gangguan kecemasan dan depresi juga meningkat,” kata Magdalena beberapa waktu lalu dalam siaran RRI.
Ia menambahkan, rokok dapat merusak paru-paru secara permanen dan meningkatkan risiko asma, bronkitis kronis, serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) di usia muda.
Selain itu, gangguan pada jantung dan pembuluh darah akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke di kemudian hari. Sistem kekebalan tubuh pun melemah sehingga remaja lebih mudah terserang penyakit.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi perokok usia 10–18 tahun mencapai 7,4 persen atau sekitar 5,9 juta remaja. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 9,1 persen, angka tersebut masih tergolong tinggi dan mengkhawatirkan.
Dari sisi kesehatan reproduksi, Magdalena menjelaskan bahwa merokok dapat menurunkan kualitas sperma pada remaja laki-laki, meningkatkan risiko infertilitas, serta memicu disfungsi ereksi dini akibat gangguan aliran darah.
Sementara pada remaja perempuan, rokok dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi, merusak sel telur, serta meningkatkan risiko keguguran dan komplikasi kehamilan di masa depan, seperti bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan gangguan perkembangan otak anak.
“Dampak rokok juga terlihat pada kecerdasan dan prestasi belajar. Zat beracun dalam rokok merusak bagian otak yang mengatur konsentrasi, memori, dan pengambilan keputusan, sehingga prestasi akademik cenderung menurun,” ujarnya.
Ia menegaskan, semakin dini remaja berhenti merokok, semakin besar peluang tubuh untuk pulih, termasuk fungsi otak serta kualitas sel reproduksi. Karena itu, remaja diimbau untuk memilih gaya hidup sehat dengan berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta berada di lingkungan pergaulan yang positif.
“Tidak ada tingkat merokok yang aman bagi remaja. Rokok bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga mencuri masa depan mereka,” kata Magdalena.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....