Tradisi Tapur Kembali Menghangatkan Ikatan Pela Gandong 3 Negeri Beda Agama
- 19 Mar 2026 21:58 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID. Ambon - Tradisi Tapur pada Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1447 Hijriah di Negeri Tengah-Tengah, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), kembali menghangatkan ikatan persaudaraan antara tiga negeri beda agama. Tiga negeri yang memiliki hubungan pela gandong dimaksud, yakni Tengah-Tengah (Muslim) di Pulau Ambon, Abubu (Kristen) di Pulau Nusalaut, dan Hatusua (Kristen) di Pulau Seram.
Tapur adalah tradisi memberi makan warga usai khatam Qur'an di Negeri Tengah-Tengah. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dulu dan diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Tahun ini, Tradisi Tapur dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026 yang ditetapkan oleh pemerintah negeri setempat sebagai Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.
"Tradisi Tapur ini sudah ada sejak zaman leluhur dan bertujuan mempersatukan hubungan persaudaraan baik antar sesama anak negeri Tengah-Tengah, maupun saudara-saudara pela gandong kita yang berlainan agama dari Abubu, Hatusua, dan marga Leiwaherilla dari Hurumuri Kota Ambon," ucap Saniri Negeri Tengah-Tengah Ahmad Leurima.
Raja Negeri Tengah-Tengah Umar Tuharea menyebut, pada lebaran tahun ini, jumlah makanan tapur yang disiapkan oleh Raja, Imam Masjid Annikmah, Saniri Negeri, tokoh-tokoh masyarakat, dan orang-orang atau kelompok yang berkecukupan sebanyak 20 tapur. "Ini cukup banyak di masa-masa sulit seperti ini," kata Raja Umar.
Ia mengakui telah berkomunikasi dengan Raja Negeri Abubu dan Hatusua untuk datang mengikuti Tradisi Tapur, namun kepastian kedatangan Raja Abubu terhalang cuaca buruk. "Katanya cuaca kurang bagus, tapi banyak masyarakat Abubu dan Hatusua sudah datang, bahkan sejak kemarin," ujarnya.

Secara tradisi, makanan tapur yang berupa aneka jenis kue, minuman, buah-buahan, dan makanan khas lebaran lain, diantar dan diarak menuju Masjid Annikmah usai Shalat Ashar dengan atraksi Hadrat yang dinamis. Malamnya, setelah khatam Qur'an, makanan Tapur yang memenuhi Masjid, diperebutkan oleh warga tiga negeri untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.
"Tradisi ini sangat luar biasa dan beta (saya) merasa seperti berada di negeri sendiri. Makanya setiap lebaran, atau acara-acara adat, kalau tidak ada halangan, beta selalu ajak keluarga datang ke sini," ujar Ibu guru Ita Aunalal, warga Negeri Abubu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....