Hijrah di Bulan Ramadan: Transformasi Diri menuju Kebaikan
- 05 Mar 2026 18:56 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon – Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, bulan suci ini hakikatnya adalah bulan pendidikan untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Salah satu konsep penting yang relevan dengan Ramadan adalah hijrah, yang tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga perubahan mendalam dalam diri seseorang.
Menurut Karni Wali, pemahaman hijrah seringkali hanya dikaitkan dengan perpindahan fisik, meneladani peristiwa bersejarah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari Mekkah ke Madinah.
"Secara history, hijrah memang merujuk pada perpindahan Nabi dari Mekkah ke Madinah dalam rangka menegakkan syiar Allah dan dakwah. Namun, secara luas, makna hijrah itu jauh lebih dalam. Hijrah adalah perubahan diri, perpindahan hati, jiwa, perilaku, dan pola pikir kita," ujar Karni Wali dalam obrolan Tadabbur di Pro1 RRI pada Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa esensi hijrah adalah meninggalkan keburukan dan dosa menuju ketaatan kepada Allah, serta mengharapkan rahmat dan ridho-Nya. Bulan Ramadan, dengan segala keutamaannya, adalah waktu yang tepat untuk melakukan transformasi diri atau hijrah pribadi.
"Ramadan ini adalah bulan pendidikan. Kita mendidik diri sendiri. Jika kita melihat keburukan kita di masa lalu, inilah kesempatan yang Allah berikan untuk berubah. Ini momentum untuk kembali ke fitrah, karena kita dilahirkan dalam keadaan suci. Seiring perjalanan hidup, pasti ada dosa dan kesalahan. Nah, Ramadan menyadarkan kita untuk berhijrah dari situasi itu," terangnya.
Karni juga menyoroti soal kesulitan seseorang untuk memulai hijrah. Menurutnya, penghalang utama seringkali datang dari dalam diri sendiri, yaitu ketiadaan niat yang kuat dan ikhlas.
"Niat itu harus dibetulkan. Kadang kita bilang mau konsisten salat tarawih, tapi ujung-ujungnya tidak. Itu tandanya niat kita belum betul, belum ikhlas karena Allah. Bicara keikhlasan, ini urusan hati yang hanya kita dan Allah yang tahu. Ketika kita ikhlas, hati dan perkataan kita selaras. Tidak ada yang bisa membaca hati manusia kecuali diri sendiri dan Allah," tuturnya.
Ia menegaskan bahwa keikhlasan menjadi kunci diterimanya amalan. Jika tidak ikhlas, maka amalan yang dikerjakan bisa menjadi sia-sia. Dalam konteks hijrah, keikhlasan berarti melakukan perubahan semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau mengharap sesuatu dari manusia.
"Jangan pernah mengharapkan sesuatu kepada manusia. Karena ketika harapan itu tidak terpenuhi, yang ada hanyalah kekecewaan. Berharaplah hanya kepada Allah. Itulah esensi keikhlasan dalam berhijrah," pesannya.
Lebih lanjut, Karni Wali mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 218 yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ayat ini, menurutnya, sudah sangat jelas memerintahkan umat Islam untuk berhijrah, baik secara fisik maupun perubahan hati, perilaku, dan akhlak menuju ketakwaan.
Mengapa Ramadan istimewa untuk berubah? Karni menjelaskan bahwa dalam setahun, Allah hanya memberikan satu bulan penuh berkah ini. Di bulan Ramadan, semua amalan dilipatgandakan, mulai dari salat tarawih, puasa, hingga membaca Al-Qur'an. Bahkan, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
"Jika kita tidak mengambil kesempatan di bulan yang hanya datang setahun sekali ini, sungguh kita adalah orang yang merugi. Ramadan mendidik kita untuk kembali kepada kebaikan, melatih pengendalian diri, dan yang tak kalah penting, mendekatkan diri dengan Al-Qur'an," jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak sekadar membaca Al-Qur'an tanpa memahami maknanya. "Membaca Al-Qur'an itu ibadah dan kita dapat pahala. Tapi untuk mendapatkan petunjuk hidup, kita harus memahami artinya. Al-Qur'an adalah pedoman hidup. Jika kita hanya membacanya tanpa tahu artinya, kita hanya dapat amalannya saja, tapi petunjuk untuk menjalani hidup bisa jadi terlewatkan. Dengan memahami maknanya, kita akan semakin mantap dan punya arah hidup yang jelas sesuai tuntunan Allah," pungkas Karni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....