Dibalik Keberkehan Ramadan, Perjuangan Kaum Marjinal Mencari Sesuap Takjil
- 25 Feb 2026 13:49 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon – Di tengah hiruk-pikuk persiapan berbuka puasa yang identik dengan hidangan lezat dan kumpul keluarga, pemandangan kontras justru terlihat di sudut Kota Ambon. Bagi sebagian warga, khususnya para pengemis dan fakir miskin, waktu maghrib bukan sekadar momen kemenangan, melainkan perjuangan untuk sekedar membatalkan dahaga.
Bertahan dibalik sisa rezeki di kawasan Pusat Perbelanjaan Ambon Plaza (Amplaz), terlihat beberapa warga prasejahtera yang duduk hanya beralas kardus bekas, menanti uluran tangan para dermawan yang mengungjungi Ambon Plaza. Darwin (47), seorang Tunadaksa yang merangkap sebagai pengemis di sela kesehariannya kepada RRI Rabu 25 Februari 2026 mengatakan, dirinya mampu menjalankan ibadah puasa meski dalam keterbatasan ekonomi serta kondisi fisik yang memprihatinkan.
Menurutnya Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, namun satu kewajiban bagi umat muslim yang harus dijalankan dengan penuh makna, karena dengan berpuasa umat muslim dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu serta berbagai godaan duniawi. Dikatakan, walaupun dapat berbuka puasa hanya dengan segelas air putih, dirinya tetap tekun menjalankannya dengan niat karena Allah SWT.
"Bagi kami, yang penting ada air putih dulu. Kalau ada rezeki lebih dari orang lewat, baru bisa beli gorengan. Seringnya ya tunggu pembagian takjil gratis di masjid atau pinggir jalan, itupun kadang kita simpan untuk sahur nanti sebelum menjalankan puasa hari berikutnya," ujar Darwin pelan ditengah gemuruhnya kendaraan yang melintas dikawasan tersebut.
Disisi lain, kenaikan harga bahan pokok pada pertengahan Ramadan tahun ini kian menghimpit ruang gerak mereka. Pendapatan yang tidak menentu membuat pilihan antara membeli makanan berbuka atau menyimpannya untuk biaya hidup menjadi pilihan yang sulit. Namun bagi Darwin, Ramadan seakan memilik keajaiban tersendiri, karena umat manusia pada umumnya menjadi lebih memanusiakan manusia.
"Ramadan itu indahnya di situ. Orang yang punya lebih jadi ingat sama kami yang tidak punya. Kalau tidak ada orang baik yang bagi-bagi takjil di jalan, mungkin kami sering melewatkan buka puasa," tambahnya.
Meskipun situasi ekonomi cukup menantang bagi Darwin, semangat berjuang menjalankan ibadah puasa di bulan suci ramadan ini tetap menyala, karena baginya, menjadi tumpuan dan harapan sebagai kepala keluarga, merupakan tanggungjawab mulia yang tidak mungkin ditinggalkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....