Sejarah Armada Laut Kerajaan Sriwijaya

  • 21 Sep 2026 14:43 WIB
  •  Ambon

‎RRI.CO.ID, Ambon - Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Kerajaan ini berkembang sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 dan pusat kekuasaannya umumnya dikaitkan dengan wilayah Sumatra bagian selatan, terutama sekitar Palembang. Kekuatan Sriwijaya sangat bergantung pada perdagangan laut, pelabuhan, dan kemampuannya menguasai jalur pelayaran strategis.

‎Sriwijaya mulai berkembang sekitar abad ke-7 Masehi. Letaknya sangat strategis karena berada dekat jalur perdagangan yang menghubungkan India, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Selat Malaka menjadi salah satu jalur penting bagi kapal-kapal dagang yang berlayar antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Karena itu, Sriwijaya berusaha mempertahankan pengaruhnya terhadap pelabuhan dan wilayah strategis di sepanjang jalur tersebut.

‎Berbeda dengan kerajaan yang kekuatannya terutama berasal dari pasukan darat, Sriwijaya sangat bergantung pada kekuatan maritim. Armada laut digunakan untuk mengawal kapal dan jalur perdagangan, mengamankan wilayah perairan, menghubungkan pusat-pusat kekuasaan Sriwijaya, mengawasi pelabuhan dan kawasan strategis, serta menunjukkan kekuasaan Sriwijaya kepada wilayah yang berada di bawah pengaruhnya.

‎Namun, perlu dicatat bahwa sumber sejarah tidak memberikan gambaran lengkap mengenai jumlah kapal, bentuk kapal perang, atau struktur organisasi armada Sriwijaya. Dengan demikian, Sriwijaya tidak mempunyai “angkatan laut” dengan sistem yang sama seperti angkatan laut negara modern.

‎Masyarakat maritim di Asia Tenggara pada masa itu memiliki kemampuan membuat kapal besar yang mampu berlayar jauh. Kapal-kapal digunakan untuk perdagangan, transportasi, perjalanan antarpulau, dan kemungkinan juga kegiatan militer. Pengetahuan mengenai angin musim, arus laut, navigasi, serta pembuatan kapal menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelayaran.

‎Sriwijaya juga berada dalam lingkungan budaya maritim Austronesia yang memiliki tradisi pelayaran panjang. Kekuatan Sriwijaya bukan hanya berasal dari kapal, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan titik-titik perdagangan strategis.

‎Dengan menguasai atau memengaruhi pelabuhan tertentu, Sriwijaya dapat menjadi pusat perdagangan dan transit bagi pedagang dari berbagai wilayah. Pedagang dari India, Tiongkok, dan wilayah Asia Tenggara datang ke kawasan yang berada dalam jaringan perdagangan Sriwijaya.

‎Sriwijaya memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah di Asia Tenggara. Pengaruh tersebut mencakup beberapa kawasan di Sumatra, Semenanjung Melayu, dan wilayah lain yang berada dalam jaringan perdagangan maritim. Pada abad ke-11, Sriwijaya mengalami konflik besar dengan Kerajaan Chola dari India Selatan.

‎Pada tahun 1025 M, Raja Rajendra Chola I melancarkan serangan terhadap sejumlah pusat penting Sriwijaya. Serangan ini menunjukkan bahwa jalur perdagangan maritim Asia pada masa itu juga menjadi arena persaingan politik dan militer.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....