Agenda Global Pasca-SDGs 2030, Dunia menuju Sustainable Futures
- 12 Sep 2026 05:59 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Tahun 2030 dinilai bukan sekadar batas waktu Agenda Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), tetapi menjadi titik persimpangan bagi dunia dalam menentukan arah pembangunan berikutnya.
Dunia perlu mempersiapkan agenda pembangunan pasca-2030 sejak sekarang, dengan mempertimbangkan perubahan iklim, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kesenjangan digital, serta ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Direktur Ambon Music Office (AMO), Focal Point Ambon UNESCO City of Music sekaligus Regional Coordinator Asia Pacific UNESCO Cities of Music, Ronny Loppies mengatakan, berakhirnya Agenda 2030 tidak berarti berakhirnya pembangunan berkelanjutan.
Menurut Ronny, tahun 2030 perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan 17 SDGs, termasuk melihat target yang telah tercapai, yang belum tercapai, serta alasan di balik capaian tersebut.
Ia menilai agenda pembangunan berikutnya tidak cukup hanya menghadirkan daftar target baru, tetapi membutuhkan kerangka yang lebih adaptif, berbasis data dan sains, serta mampu merespons perubahan yang berlangsung semakin cepat.
Science, Technology and Innovation (STI), menurut Ronny, akan memainkan peran penting dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan melalui pemanfaatan data, teknologi digital, kecerdasan buatan, teknologi hijau, dan inovasi.
Namun, teknologi harus tetap ditempatkan sebagai alat untuk mendukung pembangunan yang berorientasi pada manusia.
“Pembangunan pada akhirnya bukan hanya mengenai angka pertumbuhan ekonomi atau jumlah infrastruktur. Pembangunan harus menghasilkan manusia yang lebih sehat, berpendidikan, kreatif, sejahtera, dan mampu menghadapi perubahan,” ujar Ronny.
Ia menambahkan, sejumlah persoalan seperti perubahan iklim, pemulihan ekosistem, konservasi biodiversitas, perubahan perilaku, pendidikan generasi, dan penguatan budaya tidak dapat diselesaikan hanya dalam satu periode pembangunan.
Karena itu, hubungan antara agenda pasca-2030, Indonesia Emas 2045, dan visi pembangunan 2050 dinilai menjadi penting bagi Indonesia.
Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan biodiversitas dan keragaman budaya, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk tampil sebagai bridge builder atau pembangun jembatan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan, teknologi dan kemanusiaan, serta pembangunan modern dan pengetahuan lokal.
Ronny mengatakan, ketahanan iklim juga akan semakin penting setelah 2030. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, perubahan iklim berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, pangan, air, hutan, laut, dan perekonomian.
Di sisi lain, transformasi digital menghadirkan peluang sekaligus risiko. Teknologi dapat memperluas akses terhadap pendidikan, ekonomi kreatif, dan kebudayaan, namun tanpa akses dan literasi yang merata, teknologi berpotensi memperlebar kesenjangan.
Dalam konteks seni dan musik, perkembangan kecerdasan buatan juga menghadirkan pertanyaan mengenai orisinalitas, identitas, pengetahuan tradisional, serta hak masyarakat atas kebudayaan mereka.
Menurut Ronny, persoalan tersebut bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut manusia dan kebudayaan.
Ia menegaskan, budaya perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan, bukan sekadar pelengkap. Musik, misalnya, dapat menjadi instrumen pendidikan, memperkuat identitas, membangun kohesi sosial, mengembangkan ekonomi kreatif, mendukung pariwisata, sekaligus menyampaikan pesan mengenai lingkungan.
Pengalaman Ambon sebagai UNESCO City of Music menunjukkan bahwa musik dapat hadir tidak hanya di atas panggung, tetapi juga di sekolah, ruang publik, komunitas, lingkungan alam, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Melalui gagasan Music for Education dan Sound of Green, musik dapat dipertemukan dengan pendidikan, lingkungan, budaya, kreativitas, dan pariwisata untuk membangun ekosistem yang mendukung kesejahteraan masyarakat.
Ronny menilai, pertanyaan terbesar setelah 2030 bukan sekadar apakah dunia membutuhkan “SDGs jilid dua”, melainkan apakah dunia mampu membangun cara baru dalam membangun masa depan.
Ia mengatakan, pembangunan ke depan perlu lebih berbasis sains, adaptif terhadap perubahan, inklusif, berakar pada budaya, bijaksana dalam menggunakan teknologi, serta berorientasi pada manusia dan planet.
“Setelah 2030, mungkin kita perlu bergerak dari sekadar Sustainable Development Goals menuju Sustainable Futures. Sebuah masa depan di mana pembangunan tidak hanya diukur dari apa yang kita bangun hari ini, tetapi dari apa yang mampu kita wariskan kepada generasi berikutnya,” kata Ronny.
Ia menegaskan, 2030 bukanlah garis akhir, melainkan sebuah persimpangan untuk menentukan dunia seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....