Perdamaian Sejati Bergantung pada Tiga Fondasi Utama

  • 10 Jul 2026 14:27 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Perdamaian sering dipahami sebagai kondisi tanpa perang atau konflik terbuka. Namun, perdamaian yang sejati memiliki makna yang lebih luas dan mendalam daripada sekadar ketiadaan pertikaian.

Pengamat budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif, Harry Waluyo, mengatakan bahwa perdamaian hanya dapat terwujud apabila masyarakat mampu membangun penghormatan terhadap keberagaman budaya, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup secara bersamaan.

Menurutnya, keberagaman budaya yang tidak dihargai berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dapat memicu munculnya prasangka, diskriminasi, hingga konflik sosial yang berkepanjangan.

Harry menegaskan bahwa penghormatan terhadap hak asasi manusia juga menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial. Ketika hak-hak dasar masyarakat diabaikan, kepercayaan publik terhadap institusi dan sesama warga akan semakin melemah.

Selain itu, ia menilai kerusakan lingkungan dapat menjadi sumber konflik baru karena berkurangnya akses terhadap sumber daya yang menopang kehidupan. Persaingan dalam memperebutkan sumber daya yang semakin terbatas berisiko meningkatkan ketegangan di berbagai wilayah.

Oleh karena itu, Harry Waluyo menekankan bahwa perdamaian tidak dapat diwujudkan hanya melalui perjanjian atau slogan. Perdamaian merupakan hasil dari komitmen bersama untuk menjaga martabat manusia, menghormati perbedaan, dan merawat bumi sebagai rumah bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....