Pesparawi: antara Panggung Kompetisi dan Mezbah Iman

  • 05 Mei 2026 13:56 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Menjelang pelaksanaan Pesparawi Nasional XIV di Manokwari pada 18–28 Juni 2026, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang jarang disuarakan: apakah ajang ini masih menjadi ruang untuk memuliakan Tuhan, atau telah bergeser menjadi sekadar arena kompetisi? Di tengah kemegahan persiapan dan ambisi peserta, refleksi ini menjadi semakin relevan untuk diajukan kepada publik.

Ribuan peserta dari berbagai daerah dipastikan hadir dengan bekal latihan panjang, teknik vokal yang matang, dan semangat untuk tampil maksimal. Harmoni yang dihasilkan akan terdengar indah, terstruktur, dan memukau. Namun di balik keindahan musikal tersebut, tersimpan kegelisahan: apakah pujian yang dinyanyikan masih menjadi doa, atau telah berubah menjadi performa semata?

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam budaya kompetitif yang semakin menguat, banyak aspek kehidupan termasuk yang sakral, perlahan diukur dengan parameter kemenangan dan keunggulan. Pesparawi pun tidak luput dari arus ini, berisiko mengalami pergeseran makna dari ruang spiritual menjadi panggung evaluasi artistik.

Padahal, sejak awal penyelenggaraannya, Pesparawi dimaksudkan sebagai perayaan iman. Ia adalah ruang di mana musik gereja menjadi bahasa rohani yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Ketika dimensi ini terabaikan, keindahan yang tersisa hanya bersifat estetis, tanpa kedalaman spiritual yang seharusnya menyertainya.

Karena itu, penting untuk mengembalikan Pesparawi pada esensinya sebagai mezbah, bukan sekadar panggung. Yang dicari bukan hanya harmoni suara, tetapi juga keselarasan hati. Dalam konteks ini, muncul gagasan tentang “frekuensi Yesus”, yakni kehidupan yang selaras dengan nilai kasih, kepekaan batin, dan relasi yang hidup dengan Allah.

Pujian sejatinya bukanlah ekspresi sesaat yang dimulai dan berakhir di atas panggung. Ia merupakan aliran hidup yang berakar pada relasi spiritual yang terus-menerus. Tanpa fondasi ini, musik gereja berisiko kehilangan arah dan maknanya sebagai sarana perjumpaan dengan Yang Ilahi.

Dalam perspektif teologis, ibadah bukanlah pertunjukan manusia, melainkan respons umat di hadapan Tuhan. Musik iman tidak pernah netral, ia selalu mengarah, entah kepada diri sendiri atau kepada Tuhan. Di titik inilah Pesparawi diuji, ke mana arah nyanyian yang dipersembahkan?

Persoalan utama Pesparawi, dengan demikian, bukan semata teknis, melainkan eksistensial. Teknik tetap penting dan harus dikerjakan secara serius, namun ia hanyalah sarana. Latihan tidak hanya membentuk kualitas suara, tetapi juga membentuk karakter dan kedalaman spiritual peserta.

Di sisi lain, peran juri menjadi sangat krusial. Apa yang dinilai akan menentukan arah perkembangan Pesparawi. Jika penilaian hanya berfokus pada aspek teknis, maka peserta akan mengejar kesempurnaan performa. Namun jika dimensi penghayatan dan ketulusan turut diperhitungkan, maka Pesparawi dapat melampaui sekadar kompetisi.

Manokwari sebagai tuan rumah menghadirkan konteks yang sarat makna. Dikenal sebagai “tanah Injil”, wilayah ini menyimpan sejarah iman yang lahir dari kesederhanaan dan ketulusan. Pesparawi di tempat ini menjadi momentum refleksi, apakah nilai-nilai tersebut masih terjaga, atau telah tergantikan oleh kemasan modern yang dangkal.

Pada akhirnya, kompetisi tidak perlu dihapus, tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Ia adalah sarana untuk meningkatkan kualitas, bukan tujuan utama. Pertanyaan yang tersisa pun sederhana namun mendalam, apakah Pesparawi akan dikenang sebagai ruang perjumpaan iman, atau hanya sebagai lomba yang memukau tanpa makna spiritual?

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....