Hari Kebudayaan Nasional, Momentum Bangkitkan Jati Diri Bangsa
- 17 Okt 2025 14:09 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Tanggal 17 Oktober resmi ditetapkan sebagai Hari Kebudayaan Nasional (HKN) melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 162/M/2025. Penetapan ini menjadi langkah penting pemerintah dalam memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai budaya di tengah arus globalisasi.
Hari Kebudayaan Nasional lahir dari dorongan berbagai kalangan seniman dan budayawan yang ingin menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan nasional.
Tanggal 17 Oktober dipilih karena bertepatan dengan disahkannya Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951, yang menetapkan Garuda Pancasila dan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai lambang negara.
Menurut situs resmi indonesia.go.id, HKN bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum memperkuat jati diri bangsa melalui pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya, baik yang berwujud maupun tak berwujud.
Dikutip dari berbagai sumber, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut penetapan Hari Kebudayaan Nasional menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas kolektif bangsa Indonesia. Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi modal masa depan.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Dr. Dian Paramita, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat.
“Budaya harus tumbuh dari bawah, bukan hanya keputusan pemerintah. Hari Kebudayaan seharusnya menjadi ruang ekspresi masyarakat untuk menampilkan keberagaman mereka," katanya.
Meski demikian, terdapat kritik dari sebagian publik yang menyoroti pemilihan tanggal tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden Prabowo Subianto. Namun pihak pengusul menegaskan, keputusan ini telah melalui kajian mendalam dan tidak memiliki motif politis.
Di berbagai daerah, peringatan HKN disambut dengan kegiatan seni, pameran, dan pentas budaya lokal. Di Maluku misalnya, sejumlah komunitas budaya menampilkan tari Cakalele, musik totobuang, dan pameran tenun tradisional sebagai wujud kecintaan terhadap warisan leluhur.
Bagi banyak kalangan, momentum ini menjadi ajakan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong, toleransi, dan kearifan lokal yang mulai tergerus modernisasi.
“Kebudayaan adalah perekat bangsa. Jika kita rawat budaya, kita merawat Indonesia,”
ujar budayawan Yogyakarta, K.H. Ahmad Syafii, saat peringatan HKN di Yogyakarta, Kamis (17/10).
Hari Kebudayaan Nasional bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan gerakan moral dan spiritual untuk mengingatkan masyarakat bahwa kekuatan sejati Indonesia ada pada keberagaman budayanya.
Melalui HKN, bangsa ini diharapkan semakin sadar bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi, tetapi justru berangkat dari nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....