Sinoli, Warisan Kuliner Leluhur yang Terjepit Zaman
- 18 Agt 2026 19:37 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Di tengah gempuran makanan siap saji dan budaya instan, sinoli dan papeda berdiri sebagai bukti bisu kecerdasan leluhur Maluku. Namun, warisan kuliner ini kini menghadapi tantangan berat, bagaimana agar tidak punah ditelan generasi yang lebih akrab dengan burger daripada olahan sagu.
Eklevina Eirumkuy, Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku, menegaskan bahwa kuliner tradisional bukan sekadar soal perut kenyang. "Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang diperoleh melalui proses belajar. Kuliner masuk dalam satu produk kebudayaan karena leluhur menciptakan sesuatu menggunakan gagasan, berinteraksi dengan alam sekitar, dan mengolahnya menjadi satu ciptaan khas," ujarnya beberapa waktu lalu.
Ia mencontohkan bagaimana orang Maluku kuno tidak sekadar menumbuk sagu. Ada pengetahuan tentang tekstur, suhu, dan waktu yang tepat hingga tercipta sinoli atau papeda. Pengetahuan itu, menurut Eklevina, diakui secara hukum. "Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 mengkategorikan ini sebagai pengetahuan tradisional dan teknologi tradisional. Di situ terlihat bagaimana orang dulu memiliki pengetahuan untuk menciptakan sesuatu, teknologi apa yang harus dipakai, akhirnya muncullah teknologi tradisional," jelasnya.
Namun, nilai sinoli jauh melampaui urusan teknis. Eklevina menyebutnya sebagai warisan multidimensional. "Sinoli bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Ini adalah warisan leluhur yang menyimpan nilai sejarah, nilai budaya, dan nilai sosial. Ada ikatan batin ketika masyarakat makan bersama," tuturnya.
Persoalan muncul ketika modernisasi tak terbendung. Eklevina mengakui bahwa anak muda kini lebih cenderung menyukai makanan siap saji. Ini tantangan besar. Padahal, kalau kita lihat, bahan bakunya luar biasa. Sagu itu kaya serat dan bebas gluten.
Lantas, bagaimana agar sinoli tak hanya dikenang sebagai cerita nenek moyang? Eklevina menawarkan jalan keluar yang pragmatis. "Kemasan harus dikemas lebih modern, cita rasa harus lebih inovatif agar menarik perhatian gen Z. Ada cara khusus yang menjadikan itu ciri khas, tanpa menghilangkan esensi rasa aslinya," ujarnya.
Ia memberi catatan, inovasi bukan berarti mengubah total. "Ciri khas itu tetap harus dijaga. Misalnya, tekstur kenyal papeda atau aroma khas sinoli. Itu yang tidak boleh hilang. Kita bisa membuat varian topping atau penyajian yang lebih kekinian, tapi jiwa makanannya tetap tradisional," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....