Kuliner Tradisional Perkuat Identitas Budaya dan Solidaritas Sosial

  • 19 Jun 2026 17:09 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Makanan tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Berbagai tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun mengandung nilai sejarah, filosofi, serta kearifan lokal yang memperkuat jati diri suatu komunitas.

Pengamat budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif, Harry Waluyo, mengatakan bahwa makanan merupakan penanda identitas suatu kelompok masyarakat. Selain itu, makanan juga menjadi simbol status sosial serta sarana yang mempererat hubungan antarmanusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Harry Waluyo, pandangan tersebut sejalan dengan kajian para antropolog seperti Sidney Mintz dan Claude Fischler yang menegaskan bahwa makanan merupakan medium yang membentuk identitas kolektif dan relasi sosial dalam masyarakat. Karena itu, tradisi kuliner tidak dapat dipisahkan dari perkembangan budaya suatu bangsa.

Di Indonesia, berbagai kuliner tradisional seperti rendang, gudeg, hingga papeda tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Setiap hidangan mencerminkan sejarah, lingkungan, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat setempat.

Harry Waluyo mencontohkan tradisi slametan di Jawa yang menghadirkan nasi tumpeng sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Tradisi makan bersama tersebut menjadi bentuk komunikasi simbolik yang memperkuat solidaritas sosial serta menjaga hubungan antaranggota masyarakat.

Sementara itu, UNESCO menegaskan bahwa tradisi kuliner merupakan bagian dari warisan budaya takbenda yang perlu dilestarikan. Menurut Harry Waluyo, ketika sebuah makanan dihidangkan, yang disajikan bukan hanya resep dan cita rasa, melainkan juga sejarah, identitas, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....