Asida dan Jejak Sejarah

  • 26 Okt 2025 07:44 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Jika mendengar kata dodol, pikiran mungkin langsung tertuju ke Garut. Namun siapa sangka, di Ambon juga ada camilan serupa yang dikenal dengan nama asida. Teksturnya kenyal dan rasanya manis, mengingatkan pada dodol, tapi dengan aroma kayu manis yang khas.

Menariknya, asida seringkali muncul di bulan Ramadan, menjadi sajian favorit masyarakat Maluku saat berbuka puasa. Walapun pada hari-hari biasa, beberapa pedagang kue masih menjualnya namun cukup langka. Kudapan ini sebenarnya merupakan warisan kuliner Arab yang dibawa para pedagang dan penyebar Islam berabad-abad lalu.

Dilansir dari Mongabay, keberadaan asida di wilayah pesisir seperti Maluku, Maluku Utara, hingga Riau menunjukkan pentingnya jalur laut sebagai sarana pertukaran budaya dan tradisi di Nusantara. Melalui jalur perdagangan rempah yang ramai sejak abad ke-14, berbagai pengaruh Timur Tengah pun masuk dan beradaptasi dengan cita rasa lokal.

Dalam buku “Seri Pusaka Cita Rasa Indonesia: Ragam Kudapan Maluku, Sulawesi, Kalimantan” (2023) karya Murdjiati Gardjito, Umar Santoso, dan Eni Harmayani, dijelaskan bahwa asida berasal dari Timur Tengah dengan nama asli Asidah. Kudapan ini dibawa ke Nusantara oleh para saudagar Arab, yang kala itu berlayar menuju “Jazirata Al Mulk” atau Negeri Para Raja — sebutan kuno untuk Maluku, pusat perdagangan rempah dunia.

Di negara asalnya, asida biasa disantap dengan madu atau minyak samin. Namun, masyarakat Ambon menyesuaikannya dengan bahan lokal, mengganti samin dengan mentega, lalu menaburi permukaannya dengan gula halus, bubuk kayu manis, dan kapulaga. Perpaduan rasa manis, lembut, dan aroma rempah membuatnya menjadi kudapan khas yang istimewa.

“Asal-usul asida dapat ditelusuri hingga ke Arab. Kudapan ini sering dikonsumsi sebagai sarapan atau makan malam. Pembuatannya sederhana, hanya dari tepung terigu dan gula,” tulis para penulis

Kelezatan asida kini bisa ditemukan di berbagai daerah pesisir Maluku, termasuk Pulau Seram. Sentuhan kayu manis di atasnya menjadikan camilan ini bukan sekadar makanan manis, tetapi juga jejak sejarah dan warisan jalur rempah Nusantara yang masih hidup hingga kini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....