Mitos dan Fakta Seputar Epilepsi di Indonesia

  • 29 Agt 2024 07:09 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon : Epilepsi adalah kondisi neurologis yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun, meskipun cukup umum, masih banyak mitos yang beredar tentang penyakit ini.

"Mitos-mitos tersebut sering kali menyebabkan kesalahpahaman, stigma, dan diskriminasi terhadap mereka yang hidup dengan epilepsi," Tutur dr. Semuel A. Wagiu, Sp.N di RSUD dr. M. Haulussy Ambon kepada RRI, Kamis (29/8/2024).

Spesialis saraf dokter Semuel menguraikan, beberapa mitos dan fakta penting seputar epilepsi di Indonesia seperti:

  • Mitos 1 : Epilepsi Adalah Penyakit Menular. Salah satu mitos paling umum di masyarakat adalah anggapan bahwa epilepsi dapat menular melalui kontak fisik atau interaksi sosial. Faktanya, Epilepsi sama sekali tidak menular. Ini adalah gangguan neurologis yang disebabkan oleh kelainan pada aktivitas listrik di otak. Tidak ada cara bagi epilepsi untuk ditularkan dari satu orang ke orang lain.
  • Mitos 2: Epilepsi Hanya Terjadi pada Anak-Anak. Banyak orang percaya bahwa epilepsi adalah penyakit yang hanya menyerang anak-anak, dan bahwa mereka akan sembuh seiring bertambahnya usia. Faktanya, Epilepsi dapat dialami oleh siapa saja, pada usia berapa pun, dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa orang memang mengembangkan epilepsi di usia muda, tetapi ada juga yang baru mengalaminya di usia dewasa atau lanjut.
  • Mitos 3: Penderita Epilepsi Tidak Bisa Hidup Normal. Ada anggapan bahwa penderita epilepsi tidak bisa menjalani kehidupan normal dan produktif. Faktanya, dengan pengelolaan yang tepat, banyak penderita epilepsi dapat menjalani hidup yang normal dan aktif. Mereka bisa bekerja, bersekolah, berolahraga, dan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa hambatan berarti. Pengobatan dan dukungan yang tepat sangat penting untuk membantu mereka mengelola kondisi ini.
  • Mitos 4: Epilepsi Disebabkan oleh Pengaruh Supranatural. Di beberapa daerah, masih ada kepercayaan bahwa epilepsi disebabkan oleh hal-hal mistis, seperti kutukan, kerasukan, atau gangguan makhluk halus. Faktanya, Epilepsi adalah kondisi medis yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Penyebabnya meliputi cedera kepala, infeksi otak, stroke, atau faktor genetik. Menghubungkan epilepsi dengan supranatural hanya akan memperburuk stigma dan menghambat penderita mendapatkan perawatan medis yang tepat.
  • Mitos 5: Kejang Selalu Berarti Epilepsi. Banyak orang berpikir bahwa setiap kejang pasti berarti seseorang menderita epilepsi. Faktanya, Tidak semua kejang disebabkan oleh epilepsi. Kejang dapat terjadi karena berbagai alasan lain, seperti demam tinggi pada anak-anak, penurunan gula darah yang drastis, atau cedera kepala. Untuk mendiagnosis epilepsi, diperlukan evaluasi medis yang komprehensif.
  • Mitos 6: Penderita Epilepsi Tidak Boleh Berolahraga. Ada kepercayaan bahwa orang dengan epilepsi sebaiknya menghindari aktivitas fisik, terutama olahraga. Faktanya, Olahraga justru bisa bermanfaat bagi penderita epilepsi, asalkan dilakukan dengan pengawasan yang tepat. Aktivitas fisik dapat membantu mengurangi stres, memperbaiki kualitas tidur, dan meningkatkan kesejahteraan secara umum, yang semuanya penting untuk manajemen epilepsi. Tentu saja, beberapa olahraga dengan risiko tinggi, seperti menyelam atau panjat tebing, mungkin memerlukan pertimbangan khusus.
  • Mitos 7: Epilepsi Tidak Bisa Diobati. Banyak yang percaya bahwa epilepsi adalah kondisi yang tidak bisa diobati atau dikendalikan. Faktanya, Meskipun belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan epilepsi, kondisi ini bisa dikelola dengan baik melalui pengobatan dan terapi yang tepat. Banyak pasien yang mampu mengendalikan kejang mereka dengan obat antiepilepsi dan menjalani hidup tanpa gejala yang berarti.
  • Mitos 8: Semua Penderita Epilepsi Memiliki Kejang yang Sama. Masyarakat sering kali mengira bahwa semua kejang pada penderita epilepsi sama. Faktanya, Epilepsi memiliki banyak jenis kejang, yang bervariasi dari satu individu ke individu lain. Beberapa kejang mungkin berupa kehilangan kesadaran sesaat, sementara yang lain bisa melibatkan gerakan tubuh yang tidak terkendali atau bahkan hanya sensasi tertentu tanpa kehilangan kesadaran. Diagnosis jenis kejang yang dialami sangat penting untuk menentukan pengobatan yang tepat.

"Memahami mitos dan fakta seputar epilepsi sangat penting untuk menghilangkan stigma dan meningkatkan kualitas hidup penderita epilepsi di Indonesia," Tegas Dokter Semuel.

Dengan pengetahuan yang benar, kita bisa memberikan dukungan yang lebih baik kepada mereka yang hidup dengan kondisi ini, serta mempromosikan inklusi dan pemahaman yang lebih luas di masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....