Strategi Hidup Bersama Penderita Epilepsi
- 15 Agt 2024 16:59 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Epilepsi atau penyakit ayan biasa disebut juga mati-mati ayang adalah sekumpulan gejala yang ditandai oleh bangkitan, berulang, bisa tanpa pemicu, umumnya tidak dapat diperkirakan sebelumnya, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik sesaat yang abnormal, berlebih dan serentak, dari sekelompok sel otak.
Epilepsi berbeda dengan Kejang karena kejang biasanya timbul saat beberapa sel otak di bagian otak tertentu secara mendadak bersama-sama mengalami peningkatan aktifitas listrik. Karena itu kejang sering pula disebut “badai listrik” di otak.
"Lebih dari 50% penyebab terjadinya epilepsi tidak diketahui, sementara penyebab epilepsi yang diketahui seperti trauma otak, stroke, infeksi otak, toksin, tumor, alkohol, dan genetik " tutur spesialis saraf dr. Semuel A. Wagiu, Sp.N di RSUD dr. M. Haulussy Ambon kepada RRI, Rabu (14/8/2024)
Dokter Semuel mengatakan, pemicu terjadinya epilepsi yakni stres, kurang tidur/kurang istirahat, makan tidak teratur, konsumsi alkohol berlebih, obat-obatan tertentu (misalnya antidepresan), sinar yang berkelap-kelip (misalnya dari video game), menstruasi, kecapaian, penyakit yang menimbulkan demam (misalnya flu).
"Epilepsi tidak menular, bukan akibat kutukan/guna-guna, gangguan fisik (organik), bukan jiwa, jika diobati biasanya pasien dapat hidup normal seperti orang lain pada umumnya" jelasnya.
Sebagian besar pasien epilepsi dapat diobati. Namun, sebagian pasien tidak dapat bebas kejang meskipun sudah diobati. Pada beberapa kasus pengobatan lebih ditujukkan untuk mencegah berulangnya bangkitan, mengontrol bangkitan, dan memperbaiki kualitas hidup pasien.
Umumnya dalam kasus-kasus baru, bangkitan kejang akan berhenti dalam tahun pertama. Setelah bangkitan epilepsi berhenti kemungkinan kekambuhannya rendah, dan pasien dapat menghentikan OAE (Obat Anti Epilepsi). OAE akan dikonsumsi sekitar minimal 3 tahun setelah tak ada kejang. Diikuti penurunan dosis bertahap.
Beberapa efek samping yang dapat timbul selama pengobatan :
- Ruam kulit
- Ngantuk
- Susah tidur
- Pusing
- Rasa lelah
- Sakit kepala
- Rasa bingung
- Gangguan keseimbangan
- Berat badan naik/turun
- Tremor
Pertolongan pertama saat terjadinya kejang yakni, Pindahkan barang-barang berbahaya yang berada di dekat penderita. Jauhkan benda yang berharga dari badan penderita. Miringkan kepala penderita. Bantu pernapasan dengan meletakkan penderita dalam posisi pemulihan begitu kejangnya selesai.
Dokter Semuel menambahkan, jika sementara terjadi kejang jangan menahan gerakan penderita, jangan pindahkan penderita kecuali ia dalam bahaya, jangan masukkan apapun ke dalam mulut penderita termasuk makanan dan minuman, jangan mencoba menyadarkan penderita secara paksa.
Panggilah ambulans jika kejang terus berlangsung selama lebih dari 5 menit, kejang yang diikuti kejang berikutnya tanpa penderita sempat sadar, penderita terluka saat kejang, penderita butuh pertolongan dokter.
Strategi untuk hidup bersama penderita epilepsi yakni cari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang epilepsi, minum obat sesuai dengan anjuran dokter, kenali faktor pemicu serangan dan hindarilah faktor pemicu tersebut, sebelum minum obat lainnya (bukan OAE), cek dahulu apakah obat dapat memicu kejang, hindari kafein dalam jumlah besar, cukup istirahat dan tidur, coba atasi stres (misalnya dengan mendengar musik, latihan pernapasan, dan sebagainya), catat episode-episode kejang dalam buku catatan/diary.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....