World Cleanup Day: Piring Bersih bisa Selamatkan Bumi?

  • 21 Sep 2026 14:42 WIB
  •  Ambon

‎RRI.CO.ID, Ambon - Tanggal 20 September 2026 menjadi momen penting saat masyarakat global bergerak bersama memperingati World Cleanup Day. Gerakan ini tidak lagi sekadar kegiatan memungut sampah di jalanan, melainkan sebuah aksi nyata untuk membenahi sistem yang memicu penumpukan limbah tersebut.

‎Fokus utama peringatan tahun ini tertuju pada isu pemborosan makanan, salah satu jenis limbah terbesar yang sebenarnya sangat mungkin untuk dicegah. Lewat tema “From Clean Plates to Clean Cities”, publik diajak melihat hubungan erat antara isi piring makan sehari-hari dengan keberlanjutan lingkungan kota.

‎Masalah sampah makanan telah mencapai tingkat yang memprihatinkan di seluruh dunia. Menurut data dari laman United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat), lebih dari 1 miliar porsi makanan terbuang setiap hari di tingkat global, sementara jutaan orang masih mengalami kelaparan dan kesulitan mengakses layanan dasar.

‎Penumpukan sisa makanan ini memberi beban yang sangat berat pada sistem pengelolaan sampah kota, memicu perubahan iklim, serta membuang-buang sumber daya tanah dan air secara cuma-cuma.

‎Untuk itu, World Cleanup Day 2026 yang jatuh pada 20 September 2026 dimanfaatkan sebagai wadah untuk mempromosikan kebijakan inovatif, teknologi, dan kemitraan yang mendukung ekonomi sirkular.

‎UN-Habitat menegaskan, peringatan ini menekankan pentingnya membangun kebiasaan harian yang meminimalkan pemborosan, memperkuat sistem pemulihan pangan lokal, serta mendorong pemilahan sampah dan pengomposan sejak dari sumbernya.

‎Dampak dari makanan yang terbuang ternyata jauh lebih merusak dari yang terlihat di permukaan. Laporan dari laman earth.org menjelaskan bahwa ketika seseorang membuang makanan, seluruh sumber daya yang digunakan dalam proses produksinya (seperti air, energi, tanah, dan bahan bakar) turut terbuang. Sampah makanan menyumbang sekitar satu per tiga dari total emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.

‎Di negara-negara berpenghasilan menengah dan tinggi, pemborosan ini mayoritas terjadi di tingkat hilir (downstream), yaitu oleh konsumen dan bisnis komersial. Sebaliknya, di negara berkembang, pemborosan lebih banyak terjadi di tingkat hulu (upstream) akibat keterbatasan infrastruktur seperti tempat penyimpanan yang memadai.

‎Kerusakan yang ditimbulkan mencakup berbagai sektor lingkungan. Pertanian mengonsumsi 70% air bersih dunia, dan pemborosan makanan menyia-nyiakan seperempat dari pasokan air bersih tersebut. Makanan yang membusuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) juga menghasilkan gas metana, yang daya perusaknya 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

‎Dari sisi penggunaan lahan, alih fungsi lahan alami menjadi lahan pertanian dan peternakan demi memenuhi permintaan pangan telah merusak habitat serta mengancam keanekaragaman hayati. Di sektor kelautan, praktik pembuangan hasil tangkapan laut yang tidak memenuhi standar estetika supermarket memperparah kerusakan ekosistem perairan.

‎Oleh karena itu, lamanearth.org mencatat dibutuhkannya kerja sama dari seluruh pihak, mulai dari perubahan hukum seperti yang dilakukan Prancis dalam mewajibkan supermarket menyumbangkan makanan sisa, hingga kesadaran produsen untuk melonggarkan standar estetika produk pangan.

‎Upaya mengatasi krisis ini tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan aksi langsung dari setiap individu di rumah. Mengutip informasi dari laman United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 60 persen dari total sampah makanan berasal dari sektor rumah tangga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....