Awas Bahaya Abu Vulkanik pada Mata: Jangan Dikucek meski Terasa Gatal
- 14 Sep 2026 09:17 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Erupsi gunung berapi tidak hanya membawa ancaman bagi saluran pernapasan, tetapi juga menyimpan bahaya serius bagi kesehatan mata. Debu dan abu vulkanik yang beterbangan di udara berpotensi memicu cedera fisik pada jaringan sensitif mata, seperti yang baru-baru ini viral di media sosial.
Fenomena ini menjadi perbincangan usai seorang pemilik akun TikTok @khatrinsucisaraswati membagikan pengalamannya mengalami perdarahan pada bagian putih mata (sklera) akibat paparan abu vulkanik. Secara medis, kondisi tersebut dikenal sebagai perdarahan subkonjungtiva, yakni pecahnya pembuluh darah kecil di bawah selaput jernih konjungtiva hingga darah terjebak di permukaan mata.
Sifat Abrasif Partikel Abu Vulkanik
Praktisi kesehatan dr. Ayman Alatas menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari debu jalanan biasa. Partikel abu vulkanik mengandung batuan mineral dan pecahan mirip kaca yang berukuran halus namun bertekstur keras serta tajam.
"Sifatnya abrasif, jadi melukai secara langsung. Sehingga gampang sekali jadi iritasi," ujar dr. Ayman dalam unggahan video TikTok-nya.
Ia menambahkan bahwa tindakan refleks mengucek mata saat terkena abu justru menjadi penyebab utama kerusakan yang lebih parah. Mengucek mata membuat partikel tajam tersebut tergesek secara mendalam di permukaan kornea maupun konjungtiva.
Langkah Penanganan Pertama yang Benar
Meskipun mengucek mata merupakan dorongan alamiah saat kelilipan, dr. Ayman mengimbau masyarakat untuk menahannya. Sebagai gantinya, terdapat beberapa langkah pertolongan pertama yang direkomendasikan:
- Bilas dengan Air Mengalir: Segera aliri mata yang terpapar dengan air bersih mengalir tanpa menggosoknya.
- Metode Perendaman Wajah: Celupkan wajah ke dalam wadah atau mangkuk berisi air bersih, lalu kedipkan mata beberapa kali di dalam air agar partikel abu terangkat secara alami.
- Penanganan Pengguna Lensa Kontak: Bagi pengguna lensa kontak, sangat disarankan untuk membilas mata terlebih dahulu dengan air mengalir sebelum melepaskan lensa dari mata.
- Pemeriksaan Medis: Jika iritasi berlanjut atau terjadi perdarahan seperti gejala perdarahan subkonjungtiva, segera berkonsultasi ke dokter spesialis mata untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Dikuatkan oleh Riset Internasional
Bahaya paparan abu vulkanik pada organ penglihatan ini sejalan dengan temuan International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Lembaga riset internasional tersebut mencatat bahwa iritasi mata merupakan salah satu dampak kesehatan paling umum dari bencana erupsi gunung berapi. Partikel tajam abu dapat memicu abrasi kornea (luka gores pada kornea) hingga konjungtivitis. Gejalanya meliputi nyeri, mata merah, sensasi gatal atau mengganjal, keluarnya air mata berlebih, hingga luka lecet.
Dampak ini telah terbukti dari berbagai sejarah erupsi besar dunia. Pada letusan Gunung Irazú di Kosta Rika tahun 1963, warga dilaporkan mengalami nyeri mata dan sensasi terbakar akibat akumulasi debu di kantung konjungtiva. Sementara pada letusan Gunung St. Helens di Amerika Serikat tahun 1980, data dari 1.523 pasien menunjukkan 80,7 persen mengeluhkan sensasi benda asing di mata, 49,4 persen menderita konjungtivitis, dan hampir 20 persen di antaranya membutuhkan tindakan medis khusus untuk pengangkatan partikel abu dari mata.
Masyarakat yang berada di daerah terdampak erupsi dianjurkan untuk selalu menggunakan kacamata pelindung (goggles) saat beraktivitas di luar ruangan guna mencegah paparan langsung abu vulkanik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....