Menjaga Kesehatan Mental Pasangan Selama Program Bayi Tabung
- 30 Agt 2026 09:11 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Menjalani program bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) bukan sekadar urusan medis dan kesiapan fisik. Perjalanan panjang dalam menanti kehadiran buah hati ini membawa beban psikologis yang cukup menguras emosi pasangan suami istri.
Sayangnya, aspek kesehatan mental ini kerap luput dari perhatian. Padahal, tingkat stres yang dialami calon ibu dapat memengaruhi tingkat keberhasilan embrio untuk menempel pada dinding rahim.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., mengungkapkan terdapat tiga titik paling rawan stres selama proses IVF. Ketiga tahapan tersebut adalah saat petik telur (ovum pick up), proses tanam embrio (embryo transfer), dan masa pengumuman hasil keberhasilan atau "bagi rapot" dua minggu pasca-tanam.
Masa tunggu dua minggu setelah transfer embrio sering kali menjadi ujian mental terberat. Untuk membantu meredakan ketegangan, pasien disarankan dapat memanfaatkan terapi penunjang medis seperti akupuntur yang berfungsi sebagai pereda stres dan sarana relaksasi.
Selain faktor emosional, mitos medis yang beredar luas di masyarakat juga kerap memicu kecemasan berlebih. Salah satunya adalah anggapan bahwa calon ibu wajib menjalani tirat baring total (bedrest) setelah proses transfer embrio.
Prof. Budi menegaskan bahwa anggapan bedrest total tersebut justru keliru secara medis. Berbaring seharian tanpa aktivitas justru membuat pasien terus memikirkan waktu pengumuman hasil, yang pada akhirnya memicu stres pikiran. Pasien tetap disarankan beraktivitas normal seperti biasa, selama tidak melakukan kegiatan fisik yang terlalu berat.
Faktor pendukung utama lainnya dalam menjaga stabilitas mental adalah keberadaan sistem dukungan dari lingkungan terdekat. Kehadiran dan dukungan emosional dari pasangan serta keluarga besar terbukti efektif menurunkan tingkat kecemasan selama program berlangsung.
Menjalani prosedur di lokasi yang dekat dengan keluarga terbukti memberikan dampak psikologis yang lebih positif. Sebaliknya, bepergian jauh atau menjalani program ke luar negeri tanpa dukungan kerabat terdekat berisiko meningkatkan beban pikiran yang dapat memengaruhi tingkat keberhasilan program bayi tabung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....