BPOM Dorong Pengembangannya: Kanker hingga Stroke Jadi Sasaran Terapi Sel Punca
- 30 Agt 2026 09:07 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Terapi sel punca (stem cell) terus dikembangkan sebagai salah satu pendekatan mutakhir dalam dunia medis di Indonesia. Pengembangan terapi sel ini tidak hanya menyasar penyakit yang belum memiliki pengobatan alternatif, tetapi juga mulai diarahkan untuk mengatasi penyakit degeneratif yang menyebabkan penurunan fungsi organ secara bertahap.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. Taruna Ikrar, MD, M.Biomed, PhD, mengungkapkan bahwa perkembangan terapi sel di tanah air berlangsung cukup pesat. Ia menegaskan pentingnya regulasi yang ketat agar terapi yang dikembangkan benar-benar teruji dari sisi efikasi dan keamanan.
"Di Indonesia sendiri kita mempunyai regulasi-regulasi yang kita harapkan bahwa terapi sel yang dikembangkan di Indonesia ini benar-benar memiliki efikasi dan keamanan yang terstandar," ujar Taruna dalam konferensi pers Asian Cellular Therapy Organization (ACTO) bersama Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) di Jakarta.
Taruna mengimbau agar arah riset lebih difokuskan pada penyakit-penyakit yang menjadi beban kesehatan utama di Indonesia. Beberapa contoh sasaran penyakit berat yang mulai ditargetkan melalui terapi sel ini antara lain kanker, penyakit jantung, hingga stroke.
Selain untuk penyakit yang belum ada obatnya, terapi sel punca juga difokuskan pada upaya regenerasi sel untuk perbaikan jaringan tubuh yang rusak. Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas dan keamanan terapi tersebut wajib dibuktikan terlebih dahulu melalui uji medis secara komprehensif sebelum diterapkan dalam pelayanan kesehatan umum.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah mentranslasikan atau membawa hasil penelitian laboratorium menjadi pelayanan kesehatan nyata bagi masyarakat. Proses translasi ini memerlukan integrasi riset yang matang dari tahap dasar hingga uji klinis.
Perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa pihaknya fokus melakukan riset dasar hingga translasi. Penelitian tersebut mencakup pengembangan berbagai jenis sel, kajian mekanisme regenerasi sel, hingga respons sistem kekebalan tubuh (imunomodulasi).
BRIN juga terus mengembangkan teknologi produksi dan karakterisasi sel, termasuk platform produksi sel punca mesenkim (Mesenchymal Stem Cells/MSC). Penelitian dari tahap pra-klinis hingga hubungannya dengan penelitian klinis terus diperkuat untuk memastikan standar kualitas yang tinggi.
Pemerintah dan para peneliti menegaskan bahwa terapi sel punca tidak bisa diberikan secara sembarangan kepada pasien. Selain faktor keamanan dan keselamatan yang terbukti secara ilmiah, faktor keterjangkauan biaya juga menjadi pertimbangan penting agar manfaat terapi inovatif ini dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....