FOMO di Era Digital, Psikolog Ingatkan Bahaya Membandingkan Diri

  • 11 Agt 2026 21:13 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO semakin banyak muncul seiring tingginya penggunaan media sosial. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa takut tertinggal dari tren, informasi, maupun pengalaman yang dinikmati orang lain.

Nur Ria Handayani, S.Psi, M.Psi, Psikolog pada RSU dr. M. Haulussy Ambon menjelaskan, FOMO merupakan bentuk kecemasan sosial ketika seseorang merasa tertinggal dari apa yang sedang dilakukan atau dinikmati orang lain.

Menurutnya, FOMO kerap dipicu penggunaan media sosial secara berlebihan, terlebih ketika seseorang terus membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi secara digital dan berdampak pada kesehatan mental.

Nur Ria mengatakan, penyebab utama FOMO bukan semata-mata media sosial, tetapi berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok atau memiliki social belonging.

Ketika seseorang merasa tertinggal atau tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kelompoknya, kondisi tersebut dapat memicu stres. Penggunaan media sosial secara berlebihan kemudian dapat memperkuat tekanan karena informasi mengenai aktivitas orang lain terus mengalir tanpa henti.

Media sosial juga cenderung menampilkan sisi tertentu dari kehidupan seseorang, seperti kebahagiaan, perjalanan, maupun pencapaian. Bagi sebagian orang, hal tersebut dapat menjadi motivasi. Namun, bagi mereka yang mengalami FOMO, unggahan tersebut justru dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Akibatnya, seseorang dapat merasa gelisah, kurang percaya diri, bahkan mengalami stres karena merasa harus mengikuti standar kehidupan orang lain.

Ria menyebut sejumlah dampak FOMO yang perlu diwaspadai, di antaranya meningkatnya rasa kesepian dan kecemasan, menurunnya kepercayaan diri, berkurangnya produktivitas, hingga kelelahan mental.

Untuk mengatasi FOMO, masyarakat dianjurkan mulai menerapkan Joy of Missing Out (JOMO), yakni belajar menikmati setiap momen yang dijalani dan menemukan kebahagiaan dengan cara sendiri.

Selain itu, penggunaan media sosial juga perlu dibatasi dengan menentukan waktu screen time. Waktu yang biasanya digunakan untuk bermedia sosial dapat dialihkan ke aktivitas lain, seperti olahraga, membaca, maupun menghabiskan waktu bersama orang terdekat.

Masyarakat juga diingatkan untuk menerima dan menghargai diri sendiri dengan berhenti membandingkan kehidupan dengan orang lain serta tidak terus-menerus mencari pengakuan dari lingkungan.

Latihan mindfulness juga dapat dilakukan dengan memusatkan perhatian pada aktivitas yang sedang dijalani dan menikmati momen saat ini tanpa terus memikirkan apa yang dilakukan orang lain.

Menurut Nur Ria, perkembangan teknologi akan terus membawa fenomena FOMO. Karena itu, kemampuan seseorang mengenali dan mengelola FOMO menjadi kunci untuk menciptakan kehidupan digital yang lebih sehat dan seimbang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....