AIMI Minta Pemerintah Tinjau Ulang Juknis MBG Terkait Susu Formula

  • 01 Agt 2026 10:10 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) meminta pemerintah meninjau kembali petunjuk teknis (juknis) Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya terkait pemberian susu formula kepada balita. Organisasi tersebut menilai kebijakan itu berpotensi menjadi celah promosi produk pengganti air susu ibu (ASI) secara tidak etis.

Dilansir dari Kompas Health, permintaan tersebut disampaikan AIMI dalam konferensi pers Pekan Menyusui Dunia 2026 yang digelar secara daring, Rabu (29/7/2026). AIMI menilai cakupan distribusi Program MBG yang sangat luas perlu diimbangi dengan kebijakan yang tetap mendukung keberhasilan menyusui.

Perwakilan AIMI, Gina Sabrina, mengatakan salah satu hal yang menjadi perhatian organisasinya adalah masuknya susu formula dalam juknis MBG bagi balita. Menurutnya, penerima manfaat program tersebut tidak hanya siswa sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok masyarakat lainnya.

Ia menilai pembagian produk pengganti ASI secara massal melalui program pemerintah dapat menimbulkan persepsi bahwa produk tersebut merupakan pilihan yang direkomendasikan oleh negara. Kondisi itu dikhawatirkan memengaruhi pandangan masyarakat terhadap pentingnya pemberian ASI eksklusif.

Menurut AIMI, penggunaan susu formula tanpa indikasi medis juga berpotensi menghambat keberhasilan menyusui. Selain itu, pembagian produk pengganti ASI secara luas dinilai dapat bertentangan dengan berbagai ketentuan mengenai perlindungan, promosi, dan dukungan terhadap praktik menyusui.

Karena itu, AIMI meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap juknis dan menu Program MBG. Organisasi tersebut juga mendorong agar proses penyusunan maupun revisi kebijakan dilakukan secara transparan, akuntabel, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

AIMI berharap pembahasan kebijakan tidak hanya melibatkan organisasinya, tetapi juga tenaga kesehatan profesional, pakar gizi, serta komunitas yang memiliki perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan dapat lebih komprehensif dan tetap mengutamakan kepentingan penerima manfaat.

Selain menyoroti aspek gizi, AIMI juga mengingatkan pentingnya memastikan program pemerintah tidak menjadi ruang promosi produk pengganti ASI melalui pemasaran yang dinilai tidak etis. Menurut organisasi tersebut, dukungan terhadap ibu menyusui harus dilakukan secara konsisten agar sejalan dengan upaya meningkatkan angka keberhasilan menyusui di Indonesia.

Melalui evaluasi terhadap juknis dan menu MBG, AIMI berharap program tersebut tetap mampu memenuhi tujuan penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat, sekaligus memperkuat perlindungan terhadap praktik menyusui dan pemberian ASI sebagai sumber nutrisi utama bagi bayi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....